Karyawan Jadi Pelanggar Terbanyak Selama Operasi Patuh Maung 2026 di Banten, Tembus 3.551 Pengendara
WARTAXPRESS.com– Kalangan karyawan mendominasi daftar pelanggar lalu lintas selama pelaksanaan Operasi Patuh Maung 2026 di wilayah hukum Polda Banten.
Hingga Rabu 4 November 2026, polisi mencatat 3.551 pelanggaran dari berbagai kelompok pengguna jalan.
Direktur Lalu Lintas Polda Banten Kombes Pol Oki Bagus Setiaji merinci, sebanyak 1.687 pelanggaran dilakukan oleh karyawan.
Posisi berikutnya ditempati pelajar dengan 841 pelanggaran, disusul pengemudi sebanyak 482 pelanggaran.
Penindakan terhadap pelanggar dilakukan menggunakan sistem tilang elektronik atau Electronic Traffic Law Enforcement (ETLE), baik melalui perangkat statis maupun hand-held, serta tilang manual.
“Untuk penindakan, kami memberikan tilang melalui ETLE statis maupun hand-held sebanyak 3.473, sedangkan tilang manual sebanyak 144,” kata Oki, dikutip dari Tangselpos.id, Jumat 6 November 2026.
Jika dilihat berdasarkan jenis kendaraan, sepeda motor menjadi penyumbang pelanggaran terbanyak dengan 2.114 kasus. Sementara pengguna mobil tercatat melakukan 1.151 pelanggaran.
Pelanggaran yang paling sering ditemukan pada pengendara motor adalah tidak mengenakan helm berstandar SNI, dengan jumlah 1.532 kasus.
Adapun pada pengguna mobil, pelanggaran terbanyak berupa tidak memakai sabuk pengaman sebanyak 749 kasus.
Di sisi lain, pelaksanaan Operasi Patuh Maung 2026 mulai menunjukkan hasil dalam upaya menekan angka kecelakaan lalu lintas.
Kasubdit Kamsel Ditlantas Polda Banten Kompol Muhammad Cuaib menyebut data dari sejumlah Polres menunjukkan adanya penurunan kejadian kecelakaan.
“Dari data yang dilaporkan jajaran Polres, sudah terlihat dampak positif berupa penurunan jumlah kecelakaan lalu lintas. Namun, masih ada beberapa wilayah yang mengalami kejadian kecelakaan. Hal ini harus menjadi perhatian kita bersama agar langkah pencegahan dapat terus ditingkatkan,” ujarnya.
Cuaib menegaskan, keberhasilan operasi tidak cukup dilihat dari banyaknya pelanggar yang ditindak.
Penurunan angka pelanggaran dan kecelakaan juga menjadi indikator penting dalam pelaksanaan operasi tersebut.
Ia pun meminta Satgas Preemtif meningkatkan edukasi dan pencegahan sejak dini. Sosialisasi tertib berlalu lintas diharapkan tidak hanya dilakukan di jalan raya, tetapi juga menjangkau lingkungan tempat tinggal masyarakat agar kesadaran keselamatan terbentuk sebelum warga berkendara.

Tinggalkan Balasan