Gunung Anak Krakatau Erupsi 17 Kali dalam Empat Hari, Kolom Abu Capai 400 Meter

F-H F-H
Gunung Anak Krakatau kembali mengalami erupsi, Senin 6 Juli 2026. Dok. Istimewa

WARTAXPRESS.com- Aktivitas Gunung Anak Krakatau (GAK) di perairan Selat Sunda mengalami peningkatan dalam beberapa hari terakhir.

Gunung api yang berada di wilayah Kabupaten Lampung Selatan itu tercatat mengalami 17 kali erupsi sejak Jumat 14 Agustus 2026, hingga Senin 17 Agustus 2026, pagi.

Rangkaian erupsi tersebut terekam melalui seismograf di Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau, Desa Hargopancuran, Kecamatan Rajabasa, Kabupaten Lampung Selatan.

Amplitudo maksimum erupsi berada pada kisaran 42 hingga 64 milimeter, dengan durasi mulai dari beberapa puluh detik hingga lebih dari satu menit.

Kepala Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau Suwarno mengatakan, aktivitas erupsi pada Senin pagi berlangsung cukup intens.

“Hingga pukul 06.26 WIB, GAK tercatat mengalami tujuh kali erupsi,” ujarnya, Senin, 17 Agustus 2026 dikutip dari Tribunnews.

Erupsi pertama pada Senin terjadi pukul 01.30 WIB dengan amplitudo maksimum 57 mm dan berlangsung selama 36 detik.

Enam erupsi berikutnya tercatat pada pukul 02.13 WIB, 03.04 WIB, 03.29 WIB, 04.05 WIB, 04.20 WIB, dan 06.26 WIB.

Dari seluruh aktivitas tersebut, erupsi pukul 06.26 WIB menjadi yang paling terlihat secara visual.

Kolom abu teramati mencapai sekitar 400 meter di atas puncak atau sekitar 557 meter di atas permukaan laut.

Material erupsi tampak berwarna kelabu hingga hitam dengan intensitas tebal dan bergerak ke arah utara serta barat laut. Peristiwa tersebut memiliki amplitudo maksimum 57 mm dengan durasi 107 detik.

Enam erupsi lain yang terjadi pada Senin pagi tidak terlihat secara visual. Amplitudo maksimumnya masing-masing tercatat 57 mm, 61 mm, 64 mm, 57 mm, 58 mm, dan 55 mm.

Sehari sebelumnya, aktivitas erupsi juga terjadi sebanyak delapan kali. Erupsi pada Minggu, 16 Agustus 2026 tercatat pada pukul 09.12 WIB, 14.32 WIB, 17.06 WIB, 20.09 WIB, 22.11 WIB, 22.19 WIB, 22.36 WIB, dan 23.16 WIB.

Tiga dari delapan erupsi tersebut teramati secara visual. Pada pukul 09.12 WIB, kolom abu mencapai sekitar 200 meter di atas puncak atau 357 meter di atas permukaan laut.

Abu berwarna kelabu hingga hitam dengan intensitas sedang hingga tebal bergerak ke arah barat daya dan barat. Erupsi tersebut memiliki amplitudo maksimum 43 mm dengan durasi 59 detik.

Erupsi berikutnya pada pukul 14.32 WIB menghasilkan kolom abu setinggi sekitar 250 meter di atas puncak atau 407 meter di atas permukaan laut. Abu berwarna kelabu hingga hitam dengan intensitas tebal bergerak ke arah barat dan barat laut.

Pada pukul 17.06 WIB, kolom abu mencapai sekitar 300 meter di atas puncak atau 457 meter di atas permukaan laut. Abu berwarna hitam dengan intensitas tebal mengarah ke barat dan barat laut.

Sebelumnya, GAK juga mengalami dua erupsi pada Jumat 14 Agustus 2026, masing-masing pukul 08.24 WIB dan 14.40 WIB. Kedua erupsi tersebut tidak teramati secara visual.

Erupsi pukul 08.24 WIB memiliki amplitudo maksimum 42 mm dengan durasi 89 detik. Sementara erupsi pukul 14.40 WIB tercatat memiliki amplitudo maksimum 52 mm dengan durasi 43 detik.

Dengan total 17 kali erupsi dalam periode tersebut, status aktivitas Gunung Anak Krakatau masih berada pada Level III atau Siaga.

Masyarakat, wisatawan, dan nelayan yang beraktivitas di sekitar perairan Gunung Anak Krakatau diminta tetap memperhatikan perkembangan aktivitas gunung api dan tidak mendekati kawasan gunung maupun beraktivitas di dalam radius yang telah ditetapkan otoritas vulkanologi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Tutup