6 Hari TPA Jatiwaringin Terbakar, KLH Tunda Penyelidikan Penyebab hingga Api Padam
WARTAXPRESS.com– Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) belum melakukan penyelidikan penyebab kebakaran di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin, Kabupaten Tangerang, karena proses pemadaman masih menjadi prioritas utama.
Deputi Bidang Penegakan Hukum Lingkungan KLH Irjen Rizal Irawan mengatakan, saat ini seluruh upaya difokuskan untuk memadamkan api dan mencegah penyebaran asap yang masih terjadi hingga hari keenam kebakaran.
“Tidak mungkin juga kita olah TKP di sini untuk cari penyebab (kebakaran),” kata Rizal dikutip dari Antara, Minggu, 5 Juli 2026.
Kata dia, proses penyelidikan baru akan dilakukan setelah kondisi di lokasi dinyatakan aman dan seluruh api berhasil dipadamkan.
Rizal mengungkapkan, TPA Jatiwaringin sebelumnya telah menerima sanksi administrasi dari KLH pada 2025 karena persoalan tata kelola.
Saat itu, pemerintah daerah selaku pengelola diminta menerapkan sistem controlled landfill atau penimbunan sampah secara terkendali.
Menurutnya, selama hampir satu tahun pelaksanaan, sistem tersebut baru diterapkan pada sekitar lima hingga enam hektare dari total luas TPA sekitar 33 hektare.
“Dari tahun lalu dengan sekarang, upaya yang dilakukan oleh pemkab itu sudah melakukan controlled landfill. Ternyata selama setahun dia baru bisa berhasil 5 atau 6 hektare. Memang kita bisa mengerti bahwa dari total lahan 33 hektare ini enggak mungkin satu tahun, pasti,” bebernya.
Ia juga menyebut titik awal kebakaran justru berada di area yang belum menerapkan sistem controlled landfill.
“Nah, yang terbakar ini di area yang di luar controlled landfill,” ucapnya.
Selain menangani kebakaran di Tangerang, KLH juga menyiapkan evaluasi terhadap sekitar 390 TPA di seluruh Indonesia yang dijadwalkan mulai berlangsung pada 1 Agustus 2026.
“Itu evaluasi nanti di 1 Agustus. Jadi semua, sekitar 390 TPA itu nanti akan dilakukan evaluasi. Mana yang taat dan tidak,” tegas Rizal.
Sementara itu, Wakil Menteri Lingkungan Hidup Diaz Faisal Malik Hendropriyono mengatakan, pemerintah terus mengerahkan berbagai teknologi dan personel untuk mempercepat pemadaman.
KLH telah menggunakan thermal drone untuk memetakan sumber panas dan titik api di dalam timbunan sampah, serta mengoperasikan dua mobile monitoring system guna memantau kualitas udara di sekitar lokasi kebakaran.
Menurut Diaz, hasil pemantauan menunjukkan konsentrasi partikel PM masih berada pada tingkat yang sangat tinggi meski mulai mengalami penurunan.
“Kalau baku mutunya yang dibilang baik itu 15,5 dan sedang dari 15,5 sampai 55,5, dan setelah itu tidak sehat dan membahayakan dan lain sebagainya. Dan ini sudah sampai ke tingkat 1.000. Jadi berapa hari ini sudah tingkat 1.000, tetapi tadi malam saya lihat langsung menurun drastis,” paparnya dikutip dari Detik.
Diaz menjelaskan, karakter kebakaran di TPA Jatiwaringin menyerupai kebakaran lahan gambut karena api membakar bagian bawah timbunan sampah.
Untuk itu, Kementerian Kehutanan mengerahkan 30 personel Manggala Agni yang memiliki peralatan khusus untuk menyemprot langsung ke titik api di bawah permukaan.
“Karena TPA ini mungkin bukannya tidak efektif, tapi kurang efektif kalau diairi dari atas saja. Karena di bawahnya tetap kebakaran, sehingga kita butuh bantuan Manggala Agni untuk melakukan inject sampai ke titik di bawah,” ujarnya.
Selain pemadaman dari darat, pemerintah juga menyiapkan operasi modifikasi cuaca (TMC) bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk membantu mempercepat pengendalian kebakaran yang telah melanda sekitar 15 hektare area TPA.
“Sehingga mungkin atau dimungkinkan untuk melakukan operasi TMC besok. Kita akan melakukan bersama BNPB dan BMKG,” kata Diaz.

Tinggalkan Balasan