Gegara Banyak Calon Siswa Gagal Lolos, Puluhan Kuota Jalur Afirmasi SPMB Banten 2026 Terancam Kosong
WARTAXPRESS.com- Kuota Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) Banten 2026 untuk jalur afirmasi masih banyak yang belum terisi.
Hal ini lantaran dipicu banyaknya calon siswa yang gagal lolos karena tidak memiliki status desil dalam Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN).
Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Banten Deden Apriandhi mengatakan, persoalan itu diketahui saat proses verifikasi administrasi. Sejumlah pendaftar jalur afirmasi tidak tercatat memiliki kategori desil dalam sistem DTSEN sehingga tidak memenuhi persyaratan.
“Nah, ini yang sudah kami coba konsultasikan dengan dinas sosial, baik dinas sosial kabupaten/kota maupun provinsi,” kata Deden, dikutip dari BantenNews.co.id, Senin 6 Juli 2026.
Ia menegaskan, pemerintah tidak bisa begitu saja menerima calon siswa yang tidak memiliki data desil karena tidak ada dasar untuk menentukan tingkat kesejahteraan keluarganya.
“Kalau kita terima juga, kita kan enggak tahu nanti kenyataannya mereka masuk desil berapa. Nanti salah lagi. Kalau mau dicek berdasarkan kondisi riil keluarganya, waktunya juga enggak cukup,” ujarnya.
Berdasarkan laporan sementara, hampir 50 calon siswa di wilayah Tangerang Raya gagal diterima melalui jalur afirmasi akibat persoalan tersebut.
Angka itu diperkirakan masih akan bertambah karena belum mencakup daerah lain di Provinsi Banten.
“Kemarin saya dapat laporan dari Tangerang saja hampir 50-an di Tangerang Raya. Artinya itu menyebar, belum Serang, Pandeglang, Lebak,” katanya.
Hingga saat ini, Pemprov Banten juga belum memutuskan mekanisme pengisian kuota afirmasi yang kosong.
Pembahasan masih dilakukan bersama Dinas Pendidikan dan Kebudayaan serta Dinas Sosial tingkat kabupaten/kota maupun provinsi.
Menurut Deden, peluang bagi siswa yang terkendala administrasi masih terbuka. Namun, Dinas Sosial harus lebih dahulu melakukan verifikasi langsung ke lapangan untuk memastikan mereka benar-benar memenuhi kriteria penerima jalur afirmasi.
“Nanti mungkin Dinsos akan coba memberikan kriteria, kira-kira setelah dilakukan door to door yang bersangkutan itu masuk ke kategori mana. Mudah-mudahan bisa lah karena waktunya juga sudah mepet,” katanya.

Tinggalkan Balasan