Asap Kebakaran TPA Jatiwaringin Bikin Udara Tangerang Tidak Sehat
WARTAXPRESS.com Asap dari kebakaran Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Jatiwaringin, Kecamatan Mauk, Kabupaten Tangerang, yang belum sepenuhnya padam sejak 1 Juli 2026, mulai memberikan dampak serius terhadap kualitas udara di wilayah Tangerang dan sekitarnya.
Berdasarkan data pemantauan kualitas udara pada Minggu (5/7/2026) pukul 09.00 WIB, wilayah Cikupa, Kabupaten Tangerang mencatat Air Quality Index (AQI) mencapai 158, yang masuk kategori tidak sehat. Tingginya angka tersebut didominasi oleh konsentrasi polutan PM2.5 sebesar 65,8 mikrogram per meter kubik (µg/m³), atau jauh di atas ambang batas yang direkomendasikan untuk kesehatan.
Selain tingginya polusi, kondisi cuaca saat itu menunjukkan suhu sekitar 29 derajat Celsius, kelembapan 59 persen, dan kecepatan angin 10 kilometer per jam. Kombinasi faktor cuaca dan asap kebakaran diduga mempercepat penyebaran partikel halus ke berbagai wilayah permukiman.
Pemantauan per jam juga menunjukkan kualitas udara di Kabupaten Tangerang masih bertahan pada kategori tidak sehat sepanjang hari, dengan indeks berkisar antara 140 hingga 156 AQI. Kondisi diperkirakan mulai membaik pada malam hari dengan indeks turun ke kisaran 117 AQI, meski tetap belum sepenuhnya aman.
Tidak hanya Kabupaten Tangerang, dampak asap juga mulai dirasakan di Kota Tangerang. Pada periode yang sama, kualitas udara di wilayah tersebut berada pada kategori tidak sehat bagi kelompok sensitif dengan indeks sekitar 115 AQI. Kondisi ini mengindikasikan penyebaran asap lintas wilayah akibat pergerakan angin.
Meski demikian, proyeksi beberapa hari ke depan menunjukkan adanya peluang perbaikan kualitas udara apabila sumber emisi berhasil dikendalikan. Mulai pertengahan pekan, kualitas udara diperkirakan berangsur masuk kategori sedang, dengan indeks berpotensi turun hingga kisaran 69–93 AQI pada akhir pekan.
Masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak kesehatan akibat paparan partikel halus, terutama anak-anak, lansia, ibu hamil, serta penderita asma dan penyakit paru. Paparan PM2.5 dalam kadar tinggi dapat memicu iritasi saluran pernapasan, batuk, sesak napas, hingga memperburuk penyakit yang telah ada.
Untuk mengurangi risiko, warga disarankan membatasi aktivitas di luar ruangan saat kualitas udara memburuk, menggunakan masker yang mampu menyaring partikel halus seperti KN95 atau N95 ketika berada di luar rumah, menutup pintu dan jendela saat asap pekat, serta memanfaatkan alat penyaring udara apabila tersedia.
Sementara itu, proses penanganan kebakaran di area TPA Jatiwaringin masih terus dilakukan oleh petugas. Pemerintah dan instansi terkait terus berupaya memadamkan titik api agar dampak terhadap lingkungan dan kesehatan masyarakat tidak semakin meluas.
Masyarakat diimbau untuk terus memantau informasi resmi mengenai perkembangan penanganan kebakaran maupun kondisi kualitas udara, serta menerapkan langkah-langkah perlindungan diri hingga situasi kembali normal.

Tinggalkan Balasan