BMKG Prediksi Musim Hujan Mundur hingga 30 Hari, Ini Alasannya
WARTAXPRESS.com- Musim hujan di Indonesia diprediksi datang lebih lambat tahun ini. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan awal musim hujan mundur sekitar 20 hingga 30 hari dari rata-rata klimatologis.
Kondisi tersebut terjadi setelah sebagian wilayah Indonesia mengalami musim kemarau yang panjang dan kekeringan.
Fenomena El Nino dan Indian Ocean Dipole (IOD) yang berlangsung bersamaan turut memengaruhi kondisi tersebut.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan, mundurnya awal musim hujan terjadi akibat pengaruh El Nino.
Di sejumlah daerah, hujan diperkirakan baru mulai turun pada November, sedangkan wilayah lainnya diprediksi memasuki musim hujan pada Desember.
“Musim hujan rata-rata di seluruh Indonesia diperkirakan mundur sekitar dua hingga tiga dasarian, atau 20-30 hari, akibat pengaruh El Nino,” kata Faisal dikutip dari CNN Indonesia, Selasa 27 Oktober 2026.
Menurut Faisal, musim hujan tahun ini juga diperkirakan berlangsung dalam waktu yang lebih singkat.
Meski demikian, jumlah curah hujan secara keseluruhan diprediksi masih berada pada kondisi normal.
“Musim hujan juga akan terakumulasi cukup banyak dalam durasi yang lebih pendek, dengan sifat hujan normal. Jadi, kita harus bersiap mulai sekarang,” jelas dia.
Kondisi tersebut perlu diwaspadai karena curah hujan yang terkonsentrasi dalam periode lebih singkat dapat meningkatkan risiko bencana hidrometeorologi basah.
BMKG memperingatkan potensi banjir dan longsor, terutama ketika memasuki puncak musim hujan yang diperkirakan terjadi pada Desember, Januari, dan Februari, bergantung pada wilayahnya.
“Ini yang perlu kita waspadai karena sifat hujannya normal, artinya berdasarkan rata-rata klimatologis 30 tahun terakhir, jumlah hujan yang turun relatif sama, tetapi durasinya lebih pendek. Untuk akhir tahun ini hingga awal tahun depan, bencana hidrometeorologi basah perlu kita waspadai bersama,” tegas Faisal.
Di sisi lain, kondisi kemarau panjang juga menyebabkan sejumlah wilayah mengalami kebakaran hutan.
BMKG bersama BNPB melakukan operasi modifikasi cuaca untuk membantu mempercepat terbentuknya awan hujan di sejumlah titik kebakaran yang menjadi prioritas, termasuk Sumatera Selatan dan Kalimantan Tengah.
“Di Kalimantan Tengah, potensi pertumbuhan awan cukup tinggi mulai hari ini hingga lima hari ke depan. Sementara itu, di Sumatera Selatan, potensinya tinggi mulai besok hingga lima hari berikutnya,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan