Indonesia Masuk Fase El Nino Kuat, BMKG: Jakarta Masih Berawan dan Berpotensi Hujan Ringan
WARTAXPRESS.com – Indonesia resmi memasuki fase El Nino kuat. Kondisi ini berpotensi memicu musim kemarau yang lebih kering di sejumlah wilayah, sehingga meningkatkan risiko kekeringan, krisis air bersih, hingga kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Meski demikian, cuaca di Jakarta dalam waktu dekat diperkirakan masih relatif normal. Berdasarkan prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada Rabu (29/7/2026), sebagian besar wilayah DKI Jakarta akan didominasi cuaca berawan hingga cerah berawan selama lima hari ke depan.
Wilayah Jakarta Pusat, Jakarta Barat, Jakarta Utara, dan Kepulauan Seribu diprakirakan mengalami cuaca berawan pada awal periode prakiraan. Selanjutnya, kondisi cuaca berangsur menjadi cerah hingga cerah berawan pada hari-hari berikutnya.
Sementara itu, Jakarta Selatan dan Jakarta Timur masih berpotensi diguyur hujan ringan pada hari kedua prakiraan. Setelahnya, kedua wilayah tersebut kembali didominasi cuaca cerah berawan hingga cerah.
BMKG juga memperkirakan suhu udara di Jakarta dalam lima hari ke depan berada di kisaran 24 hingga 34 derajat Celsius. Suhu tertinggi diprediksi terjadi di Jakarta Selatan dan Jakarta Timur yang mencapai 34 derajat Celsius, sedangkan suhu terendah berkisar 24–25 derajat Celsius pada malam hingga dini hari.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa meski Indonesia telah memasuki fase El Nino kuat, cuaca di Jakarta dalam waktu dekat masih relatif kondusif dengan kombinasi cuaca berawan, cerah berawan, serta hujan ringan di beberapa wilayah.
BMKG: Indonesia Sudah Masuk El Nino Kuat
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, mengatakan Indonesia kini telah memasuki kategori El Nino kuat.
“Untuk saat ini kondisinya sudah masuk ke El Nino kuat,” ujar Faisal usai bertemu Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (28/7/2026).
Menurut Faisal, El Nino terjadi ketika suhu permukaan laut di Samudra Pasifik meningkat lebih dari 0,5 derajat Celsius di atas kondisi normal. Saat ambang tersebut terlampaui, fenomena El Nino dinyatakan aktif dan dapat memengaruhi pola cuaca di Indonesia.
Dampak yang paling diwaspadai adalah menurunnya curah hujan di sejumlah daerah. Kondisi ini berpotensi memicu kekeringan, krisis air bersih, hingga meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan.
Karena itu, BMKG bersama pemerintah memprioritaskan langkah mitigasi, mulai dari menjaga ketersediaan air di waduk hingga melakukan operasi modifikasi cuaca untuk mengurangi potensi karhutla.
Enam Provinsi Jadi Fokus Antisipasi
BMKG mencatat ada enam provinsi yang menjadi perhatian utama karena rawan mengalami kebakaran hutan dan lahan saat musim kemarau, yakni Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.
Pemerintah akan melakukan berbagai langkah antisipasi, termasuk pengisian waduk melalui operasi modifikasi cuaca serta pembasahan lahan-lahan yang rentan terbakar.
“Pengisian waduk dengan modifikasi cuaca dan lain sebagainya juga untuk mengantisipasi kebakaran hutan dan lahan melalui pembasahan dari lahan-lahan yang mudah terbakar,” kata Faisal. Dikutip dari Kompascom.
AHY Minta Pemerintah Daerah Waspada
Secara terpisah, Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) mengingatkan seluruh pemerintah daerah agar meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak El Nino.
Menurut AHY, ancaman yang harus diantisipasi bukan hanya kekurangan air bersih, tetapi juga potensi terganggunya sektor pertanian, ketahanan pangan, hingga aktivitas ekonomi akibat musim kemarau yang lebih panjang.
“Potensi El Nino yang juga mungkin menghadirkan bencana di negeri kita. Kita harus menyiapkan diri sebaik mungkin agar El Nino yang berhimpit dengan masa kemarau tidak terlalu menghadirkan permasalahan yang terlalu berarti bagi masyarakat kita, termasuk mengganggu sektor pangan dan ekonomi secara keseluruhan,” ujar AHY.
Warga Diminta Terus Pantau Informasi Cuaca
Meski prakiraan BMKG menunjukkan cuaca Jakarta masih relatif kondusif dalam lima hari ke depan, masyarakat tetap diimbau untuk memantau perkembangan informasi cuaca secara berkala.
Pasalnya, kondisi atmosfer dapat berubah sewaktu-waktu, terutama di tengah menguatnya fenomena El Nino yang mulai memengaruhi berbagai wilayah di Indonesia.

Tinggalkan Balasan