Rupiah Melemah, Pakar Ingatkan Masyarakat Kurangi Gaya Hidup Konsumtif
WARTAXPRESS.com- Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali melemah. Pada Rabu, 20 Mei 2026, rupiah sempat bergerak di kisaran Rp17.600 hingga Rp17.750 per dolar AS.
Kondisi tersebut dinilai dapat memicu kenaikan biaya hidup masyarakat karena Indonesia masih bergantung pada sejumlah bahan impor.
Pakar Ekonomi Pembangunan Universitas Muhammadiyah Malang Yunan Syaifullah mengatakan, efek dari rupiah melemah itu berpotensi memberikan dampak berantai terhadap harga kebutuhan pokok hingga biaya transportasi.
Misalnya saja, kata dia, tahu dan tempe lantaran 90 persen kebutuhan kedelai nasional masih mengimpor dari luar negeri.
”Kemudian BBM dan transportasi naik karena Indonesia masih ketergantungan impor minyak dan energi, hingga berdampak pada belanja bulanan jadi lebih mahal,” kata Yunan dikutip dari Republika, Jumat 22 Mei 2026.
Menurutnya, masyarakat tetap akan terdampak meski tidak membeli barang impor secara langsung. Sebab, kenaikan dolar ikut mendorong naiknya biaya produksi industri dalam negeri.
“Sebenarnya beli atau tidaknya mereka terhadap barang impor, mereka akan tetap terkena efek berantai mulai dari BBM naik, bahan baku naik, biaya produksi juga naik. Kenaikan dolar ini memberi dampak pada seluruh lapisan masyarakat,” ujarnya.
Yunan mengimbau masyarakat mulai mengevaluasi kondisi keuangan pribadi di tengah gejolak nilai tukar saat ini.
Ia menyarankan masyarakat memangkas pengeluaran yang tidak penting dan mengurangi gaya hidup konsumtif.
“Dalam kondisi kurs yang tengah bergejolak, stabilitas ekonomi seseorang tidak selalu ditentukan oleh seberapa besar penghasilannya, melainkan seberapa sehat dan rasional ia mengelola keuangannya,” katanya.
Selain itu, masyarakat juga diminta memastikan dana darurat tetap aman serta menunda pembelian barang yang tidak mendesak, terutama produk yang sensitif terhadap dolar seperti gawai dan alat elektronik.
Untuk menjaga nilai aset jangka panjang, Yunan menyarankan masyarakat mulai mempertimbangkan diversifikasi tabungan ke instrumen seperti emas, reksadana, maupun saham sektor defensif secukupnya.
Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak terlena menggunakan layanan kredit instan atau paylater karena dapat memicu masalah keuangan baru.
“Kebiasaan ini membuat ilusi kita punya uang lebih padahal itu utang. Bunga dan denda jika terlambat membayar dapat menguras habis uang kita,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan