Pemkot Tangsel Gandeng IPSI dan HIMPSI Perkuat Pendidikan Karakter Sejak Dini
TANGSEL, WARTAXPRESS.COM –Pemerintah Kota Tangerang Selatan terus mendorong penguatan pendidikan karakter dan mental anak melalui kolaborasi lintas sektor, mulai dari dunia pendidikan, organisasi profesi, hingga unsur budaya.
Wakil Wali Kota Tangerang Selatan Pilar Saga Ichsan, pendidikan tidak cukup hanya berfokus pada aspek akademik, tetapi juga harus menyentuh pembangunan karakter, mental, serta pendekatan psikologis dan budaya.
“Fondasi pendidikan itu bukan hanya kemampuan akademik, tetapi juga bagaimana karakter dan mental anak dibangun. Ini harus diperkuat melalui pendekatan psikologi dan budaya,” kata Pilar saat kegiatan pembinaan kepala sekolah TK, SD, dan SMP negeri se-Kota Tangerang Selatan di Aula Blandongan Puspemkot Tangsel, Rabu (8/4/2026).
Pilar menambahkan, kerjasama antara Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI), komunitas seni, HIMPSI, dan Dinas Pendidikan menjadi langkah strategis untuk menghadirkan pendidikan yang lebih holistik bagi anak-anak di Tangerang Selatan.
Selain itu, Pilar juga menyoroti pentingnya menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan nyaman bagi siswa. Pemerintah Kota Tangsel saat ini tengah menjalankan program “Sekolah Aman dan Nyaman” sebagai upaya mencegah berbagai bentuk kekerasan dan pelecehan di lingkungan pendidikan.
“Kita sekarang sedang melakukan program Sekolah Aman dan Nyaman, sesuai arahan pusat keamanan dan kenyamanan untuk anak-anak kita. Jadi, tidak boleh ada toleransi terhadap kekerasan ataupun pelecehan di sekolah. Jika ada, akan kami tindak tegas dan diproses sesuai hukum,” ujarnya.
Pilar menegaskan, peran kepala sekolah dan guru menjadi kunci dalam memastikan pengawasan dan pembinaan terhadap peserta didik berjalan optimal. Sosialisasi dan penguatan pemahaman terkait etika serta perlindungan anak terus dilakukan di setiap satuan pendidikan.
Di sisi lain, Pilar juga menanggapi fenomena penggunaan media sosial di kalangan anak-anak. Ia mendukung kebijakan pembatasan usia dalam mengakses platform digital, guna melindungi anak dari paparan konten negatif.
“Anak-anak belum bisa memilah mana yang baik dan buruk. Maka perlu ada pembatasan dan pendampingan dari orang tua maupun guru,” tegasnya.
Meski demikian, Pilar menilai penggunaan gawai tetap diperlukan dalam proses pembelajaran selama digunakan secara bijak dan terkontrol.
“Teknologi itu penting untuk menunjang belajar. Tapi harus ada batasan, terutama saat jam pelajaran agar anak tetap fokus,” kata dia.

Tinggalkan Balasan