Mahasiswa UMT Raih Juara Nasional KMLI 2026, Mobil Listrik Buatan Cisadane Benteng Team Sabet Juara 2 Endurance
KOTA TANGERANG, WARTAXPRESS.com Prestasi membanggakan ditorehkan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Tangerang (UMT). Melalui Cisadane Benteng Team, mobil listrik karya mereka sukses meraih Juara 2 Kategori Endurance pada ajang Kompetisi Mobil Listrik Indonesia (KMLI) XIV Tingkat Nasional 2026.
Berkat pencapaian gemilang tersebut, dua mahasiswa Program Studi Teknik Mesin UMT selaku perwakilan tim, Essa Riyanto dan Bintang Nur Alif, mendapatkan apresiasi khusus dari Pemerintah Kota Tangerang bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98, Rabu (28/10/26).
Kompetisi bergengsi ini sebelumnya diselenggarakan di Politeknik Negeri Bandung (Polban) pada 21–25 September 2026. Ajang ini mempertemukan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia untuk menguji kemampuan dan inovasi dalam mengembangkan teknologi kendaraan ramah lingkungan.
Bintang Nur Alif mengungkapkan rasa syukur dan bangganya atas kerja keras tim yang akhirnya berbuah manis setelah melalui proses perancangan hingga pengembangan kendaraan yang cukup panjang.
“Tentu saja kami merasa senang atas pencapaian ini. Karya yang sudah kami rancang dengan susah payah akhirnya membuahkan hasil,” ujar Bintang saat dihubungi.
Ia menjelaskan, keberhasilan mobil listrik Cisadane Benteng Team di Kategori Endurance tidak lepas dari keunggulan pada aspek efisiensi penggunaan energi.
Kategori ini memang dirancang untuk menguji ketahanan kendaraan sekaligus menuntut peserta agar mampu mengonsumsi daya listrik sehemat mungkin dalam durasi tertentu.
“Keunggulan mobil listrik yang kami buat adalah kemampuannya menggunakan energi dengan cukup hemat. Kategori ini memang berfokus pada bagaimana kendaraan yang dibuat peserta dapat menggunakan energi sehemat mungkin,” jelasnya.
Di balik prestasi membanggakan di tingkat nasional tersebut, perjalanan Cisadane Benteng Team tidaklah instan. Mereka sempat dihadapkan pada berbagai kendala, mulai dari keterbatasan anggaran hingga tantangan teknis di lapangan.
Menurut Bintang, keterbatasan dana mengharuskan tim untuk memutar otak dalam mengatur pengeluaran dan menyiasati kebutuhan komponen.
Sementara dari sisi teknis, tantangan utama meliputi optimalisasi efisiensi baterai, menjaga keandalan komponen (reliability), serta merampungkan proses perakitan dan pengujian sesuai tenggat waktu yang ketat.
Meski demikian, segala rintangan tersebut berhasil dilalui hingga membawa nama UMT bersaing di panggung nasional. Apresiasi yang diberikan oleh Pemkot Tangerang pun dinilai menjadi suntikan semangat tersendiri bagi para anggota tim.
“Kami bangga atas apresiasi yang telah diberikan Pemerintah Kota Tangerang. Semoga hal tersebut dapat menjadi semangat bagi Cisadane Benteng Team ke depannya,” kata Bintang.
Menatap masa depan, Cisadane Benteng Team tidak ingin cepat puas. Mereka telah merancang sejumlah agenda lanjutan, termasuk melakukan riset yang lebih mendalam untuk mengevaluasi berbagai kekurangan kendaraan selama kompetisi tahun ini.
Hasil evaluasi tersebut nantinya akan dijadikan landasan perbaikan guna meningkatkan performa, daya saing, serta kesiapan teknologi pada ajang-ajang berikutnya.
“Tentunya kami akan melakukan riset yang lebih mendalam agar kekurangan mobil listrik Cisadane Benteng Team tahun ini bisa menjadi bahan evaluasi. Harapannya, ke depan kami bisa menjadi juara umum di semua kategori,” pungkasnya.
Pencapaian ini diharapkan tidak hanya berhenti pada Essa dan Bintang, melainkan mampu menjadi inspirasi serta motivasi bagi mahasiswa UMT lainnya untuk terus berinovasi menciptakan teknologi kendaraan listrik yang efisien, mandiri, dan berkelanjutan.

Tinggalkan Balasan