TANGERANGKOTA, WARTAXPRESS.com  Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Tangerang terus memastikan kondisi kesehatan para pengungsi korban banjir di berbagai titik wilayah tetap terjaga. Hingga saat ini, belum ditemukan adanya kasus kesehatan darurat yang memerlukan rujukan ke rumah sakit.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Tangerang, dr. Dini Anggraeni menuturkan mayoritas keluhan pengungsi sejauh ini masih bersifat ringan, belum ada yang bersifat darurat dan dirujuk ke Rumah Sakit.

“Alhamdulillah, keluhan yang sifatnya darurat itu tidak ada, dan belum ada laporan kebutuhan rujukan. Semua masih bisa ditangani di lokasi,” ujar dr. Dini saat ditemui meninjau lokasi pengungsian di Masjid Al Jihad, Perumahan Periuk Damai, Kelurahan Periuk, Kecamatan Periuk, Senin (26/01/26).

Menurutnya, keluhan yang paling sering dirasakan warga meliputi pusing, gangguan pencernaan, masuk angin, hingga penyakit kulit seperti gatal-gatal akibat paparan air banjir.

Selain itu, petugas medis juga memberikan perhatian khusus bagi pengungsi dengan penyakit kronis yang memerlukan pengobatan rutin.

“Bagi masyarakat yang memiliki penyakit hipertensi atau diabetes, kami pastikan stok obat-obatan mereka aman karena mereka harus mengonsumsi obat setiap hari. Teman-teman di lapangan sudah membawa obat-obatan yang diperlukan,” tambahnya.

Untuk memaksimalkan pelayanan, Dinkes Kota Tangerang menerapkan strategi kolaborasi antar-Puskesmas. Mengingat beberapa gedung Puskesmas di wilayah terdampak juga harus tetap beroperasi melayani pasien umum, bantuan personel didatangkan dari Puskesmas di luar wilayah terdampak.

“Kita sudah memetakan dan mendistribusikan bantuan personel. Jadi, penanganan kesehatan tidak hanya menjadi beban Puskesmas di wilayah banjir saja, tapi juga disupport oleh tim dari wilayah lain,” jelas dr. Dini.

Dinkes juga menyiagakan ambulans gratis 24 jam di titik-titik strategis untuk mempercepat akses evakuasi jika sewaktu-waktu dibutuhkan.

Tak hanya menunggu di posko kesehatan, tim medis juga melakukan jemput bola dengan metode door-to-door. Bekerja sama dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), petugas kesehatan mendatangi rumah-rumah warga yang masih bertahan atau di lokasi yang sulit dijangkau.

“Kita ikut bersama tim BPBD untuk mengecek akses dan memastikan warga yang mungkin membutuhkan bantuan medis namun tidak bisa keluar rumah bisa segera tertangani,” tuturnya.

Terkait jumlah personel, dr. Dini menyebutkan bahwa pengerahan petugas bersifat fleksibel tergantung jumlah pengungsi. Sebagai contoh, di wilayah Periuk disiagakan sekitar enam petugas medis yang terdiri dari dokter dan perawat.

“Jumlahnya menyesuaikan kebutuhan di lapangan. Jika pengungsi banyak, tim kita tambah. Namun di setiap titik, dipastikan ada tim dokter yang siaga,” pungkasnya.