Pengusaha Ritel Akui Konsumen Kini Lebih Pilih Harga Murah Dibanding Merek

F-H F-H

WARTAXPRESS.com- Perubahan perilaku belanja masyarakat mulai terasa di sektor ritel. Di tengah tekanan ekonomi, konsumen disebut semakin mempertimbangkan harga sebelum memutuskan membeli sebuah produk.

Ketua Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Solihin melihat perubahan tersebut cukup berbeda dibandingkan pola belanja masyarakat beberapa tahun lalu.

Jika sebelumnya merek menjadi salah satu pertimbangan utama, saat ini harga yang lebih terjangkau justru semakin menentukan pilihan konsumen.

“Gini, kalau kita lihat daya beli masyarakat saat ini udah pasti bergeser, ya. Dulu kalau kita bicara harga, itu kan enggak menjadi nomor satu,” ujar Solihin di Tangerang, dikutip dari RRI, Jumat 11 September 2026.

Menurut Solihin, pergeseran tersebut juga terlihat dari menurunnya loyalitas konsumen terhadap merek tertentu.

Ia mencontohkan kebiasaan konsumen perempuan dalam memilih produk kebutuhan sehari-hari.

“Contoh perempuan nih, dulu loyalitas terhadap brand luar biasa, kalau sampo aja, kalau enggak pakai merk tertentu enggak mau nyampo,” kata dia.

Saat ini, konsumen cenderung tidak terlalu mempermasalahkan merek selama produk yang dibeli dapat memenuhi kebutuhan dengan harga yang lebih murah.

“Sekarang, sudah pakai aja yang penting ada busanya deh, tapi harganya murah, gitu. Nah. apapun deh, saya enggak nyebut merek, apapun ya,” sambung Solihin.

Menurutnya, pergeseran tersebut menunjukkan konsumen semakin rasional dalam menentukan pengeluaran.

Ketika kebutuhan tetap harus dipenuhi, harga menjadi faktor penting untuk menyesuaikan belanja dengan kemampuan keuangan masing-masing.

“Jadi, lanjutnya, ada pola pergeseran belanja konsumen lebih kepada harga. Tetapi dengan mendapatkan mencari harga yang lebih murah tetapi kebutuhannya bisa terpenuhi, loyalitas terhadap satu merk sudah mulai bergeser,” ucap Solihin.

Di sisi lain, kondisi mengenai kondisi daya beli masyarakat berbeda dengan pandangan pemerintah.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa membantah anggapan bahwa daya beli masyarakat secara umum sedang mengalami penurunan.

Purbaya menggunakan kondisi Dana Pihak Ketiga (DPK) perbankan sebagai salah satu indikator untuk melihat kemampuan masyarakat menyimpan uang di perbankan.

“Kalau kita lihat DPK tumbuhnya double digit, ya?. Nah, itu kan kelihatan secara agregat pertumbuhan tabungannya naik,” kata Purbaya.

Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan DPK perbankan pada Juli 2026 tumbuh 11,21 persen secara tahunan menjadi Rp10.336 triliun.

Pertumbuhan tersebut meningkat dibandingkan Juni 2026 yang berada di angka 10,21 persen secara tahunan.

Deposito menjadi penyumbang pertumbuhan terbesar dengan kenaikan 13,13 persen secara tahunan. Sementara giro tumbuh 11,81 persen dan tabungan meningkat 8,37 persen.

Meski demikian, Purbaya mengakui pertumbuhan ekonomi tidak otomatis membuat seluruh lapisan masyarakat merasakan kondisi yang sama.

Menurutnya, tetap ada kelompok masyarakat yang berada dalam tekanan ketika kondisi ekonomi belum sepenuhnya membaik.

“Ini kan kita baru keluar dari tekanan dari September tahun lalu, ini (ekonomi, Red) mulai gerak,” kata dia.

Purbaya berharap pertumbuhan ekonomi pada periode berikutnya dapat semakin kuat sehingga tekanan yang dirasakan masyarakat di lapisan bawah ikut berkurang.

“Triwulan kedua tahun ini memang ada turun sedikit, triwulan tiga kita harapkan naik. Jadi pasti gejolak seperti itu di titik-titik bawah itu pasti ada kondisi di mana ketika kita tidak mudah mencari uang,” tambahnya.

Untuk mendorong aktivitas ekonomi, pemerintah disebut telah menambah likuiditas ke dalam sistem keuangan pada Juli dan Agustus 2026.

Kebijakan tersebut diarahkan untuk meningkatkan pergerakan ekonomi dan memperluas dampak pertumbuhan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Tutup