Ombak Besar Tak Halangi 130 Nelayan Cari 5 Jurnalis yang Hilang Kontak di Selat Sunda
WARTAXPRESS.com- Selain mengandalkan Tim SAR Gabungan, upaya menemukan rombongan lima jurnalis dan tiga kru speedboat yang hilang kontak di perairan Selat Sunda juga melibatkan puluhan hingga ratusan nelayan dari Pulau Sebesi, Lampung Selatan.
Sebanyak sekitar 130 nelayan dikerahkan untuk ikut memantau perairan.
Meski demikian, para nelayan diminta tetap memperhatikan kondisi laut selama menjalankan aktivitas mencari ikan, terutama di wilayah yang mengarah ke kawasan Gunung Anak Krakatau.
Kepala Desa Tejang Pulau Sebesi Syamsiar mengatakan, pemerintah desa langsung meneruskan informasi hilangnya rombongan kepada kelompok-kelompok nelayan yang ada di wilayahnya.
Desa Tejang diketahui memiliki 13 kelompok nelayan dengan jumlah anggota sekitar 130 orang.
Informasi tersebut kemudian disebarkan kepada para nelayan, termasuk melalui ketua RT dan kepala dusun.
“Kami sudah share ke grup-grup kelompok nelayan dan juga menginformasikan kepada ketua RT serta kepala dusun. Kalau saat melaut melihat keberadaan speedboat tersebut atau menemukan sesuatu yang mencurigakan, diminta segera melapor,” ungkapnya dikutip dari liputan6, Jumat 11 September 2026.
Selain membantu pencarian, para nelayan tetap menjalankan pekerjaan mereka sehari-hari di laut.
Aktivitas mencari ikan sekaligus dimanfaatkan untuk mengawasi kemungkinan adanya tanda-tanda keberadaan speedboat yang membawa rombongan jurnalis.
“Setiap nelayan yang pergi melaut tetap kami imbau untuk ikut memantau. Sambil mencari ikan, mereka juga membantu tim SAR mencari keberadaan speedboat itu,” ujar Syamsiar.
Sebelumnya, pemerintah desa juga mendapat informasi mengenai adanya titik koordinat sinyal telepon seluler yang terdeteksi di sekitar Pulau Sebesi.
Lokasi tersebut kemudian diperiksa oleh aparat desa.
“Memang kemarin kami diinformasikan oleh Bhabinkamtibmas karena terakhir titik koordinat itu ada di Pulau Sebesi. Setelah kami cek sesuai titik koordinat yang dikirim, hasilnya masih nihil,” kata Syamsiar.
Menurut Syamsiar, lokasi yang ditunjukkan oleh titik sinyal berada sekitar 200 meter dari bibir pantai dan tidak jauh dari dermaga.
Meski telah dilakukan pengecekan, keberadaan rombongan maupun speedboat belum ditemukan.
“Titiknya sekitar 200 meter dari bibir pantai. Kami langsung mengarahkan aparat desa untuk melakukan pengecekan, tapi sampai saat ini belum ditemukan keberadaan mereka maupun speedboat yang dicari,” jelasnya.
Pencarian dilakukan dalam kondisi laut yang tidak mudah. Ombak besar dan angin kencang membuat nelayan harus memperhitungkan arah pelayaran, terutama jika menuju kawasan Gunung Anak Krakatau.
“Kalau arah menuju Krakatau memang cuaca lagi tidak bagus. Ombaknya agak besar dan anginnya juga cukup kencang. Nelayan sekarang mencari ikan dengan mengambil arah lain,” terangnya.
Dari Desa Tejang menuju kawasan Gunung Anak Krakatau, perjalanan menggunakan kapal nelayan diperkirakan membutuhkan waktu sekitar tiga hingga empat jam.
Kondisi perairan yang kurang bersahabat membuat nelayan lebih berhati-hati ketika melakukan aktivitas di laut.
Di tengah proses pencarian, Gunung Anak Krakatau juga kembali mengalami erupsi pada Kamis pagi.
Abu vulkanik turut berdampak ke wilayah Pulau Sebesi, meski menurut Syamsiar kondisinya masih relatif aman.
“Kalau untuk debu vulkanik, Kepulauan Sebesi bisa dikatakan masih aman. Ada dampaknya, tapi tidak separah di Kalianda dan daerah lainnya,” ujarnya.

Tinggalkan Balasan