Penanganan Kesehatan Pasca Bencana di Flores Terkendali Kementerian Kesehatan Dirikan Rumah Sakit Darurat 

Gara Dedi Nurhaedi
Pemerintah terus mempercepat penanganan dampak bencana di sejumlah wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), Foto : Gara.

WARTAXPRESS.com — Pemerintah terus mempercepat penanganan dampak bencana di sejumlah wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), khususnya dari sisi pelayanan kesehatan. Hingga Selasa (18/8/2026), tercatat 53 orang meninggal dunia dan sekitar 79 orang mengalami cedera akibat bencana tersebut.

Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) dr. Benjamin Paulus Octavianus mengatakan, kondisi pelayanan kesehatan bagi masyarakat terdampak bencana saat ini masih relatif terkendali. Namun, proses pencarian dan evakuasi korban masih terus dilakukan sehingga jumlah korban berpotensi berubah.

“Terakhir tercatat 53 orang meninggal dunia. Kemudian sekitar 79 orang mengalami berbagai cedera, mulai dari patah tulang hingga cedera kepala,” ujar Benjamin di Tangerang, Selasa (18/8/2026).

Menurut Benjamin, pemerintah bersama lintas sektor telah mengerahkan tenaga medis dan berbagai peralatan kesehatan ke sejumlah wilayah terdampak. Tim medis didistribusikan dari Labuan Bajo menuju Nagekeo, Ngada, Ruteng, Ende, serta sejumlah daerah lainnya.

Respons tenaga kesehatan juga mendapat apresiasi. Benjamin menyebut sejumlah dokter spesialis bahkan datang secara mandiri ke wilayah terdampak dengan biaya sendiri untuk membantu menangani para korban.

Ia menilai langkah tersebut menunjukkan tingginya solidaritas sekaligus kecepatan respons tenaga kesehatan dalam menghadapi situasi darurat bencana.

“Dokter-dokter sudah bergerak sendiri. Ada dokter dari Makassar, Surabaya dan daerah lainnya yang datang dengan biaya sendiri. Jadi, kecepatan respons teman-teman dokter ini luar biasa,” kata Benjamin.

Rumah Sakit Darurat Didirikan

Dari sisi fasilitas kesehatan, pemerintah memastikan sebagian besar rumah sakit di wilayah terdampak masih dapat memberikan pelayanan. Dari 21 rumah sakit yang terdata, sebanyak 16 rumah sakit masih beroperasi secara maksimal.

Sementara itu, empat rumah sakit mengalami gangguan, tetapi masih dapat digunakan untuk memberikan pelayanan. Adapun satu rumah sakit di Ruteng mengalami kerusakan total

Untuk mengantisipasi terganggunya pelayanan kesehatan akibat kerusakan fasilitas, pemerintah mendirikan rumah sakit darurat di Nagekeo dan Ruteng.

Benjamin mengatakan pembangunan rumah sakit darurat tersebut dilakukan secara cepat agar dapat segera dimanfaatkan masyarakat. Fasilitas darurat ditargetkan selesai dalam waktu sekitar lima hingga enam jam sejak proses pemasangan dimulai.

“Yang di Ruteng rusak total, sehingga kita datangkan rumah sakit darurat. Tadi pagi saya lihat sudah dipasang dan sekarang sudah selesai,” ungkapnya.

Puluhan Puskesmas Terdampak

Selain rumah sakit, sejumlah pusat kesehatan masyarakat (puskesmas) juga mengalami kerusakan akibat bencana.

Dari total 190 puskesmas yang terdata, sebanyak 122 masih dapat beroperasi secara maksimal. Sebanyak 49 puskesmas mengalami kerusakan sebagian, tetapi masih bisa digunakan untuk memberikan pelayanan.

Sementara itu, 19 puskesmas mengalami kerusakan parah sehingga tidak dapat digunakan.

Sebagai langkah sementara, pemerintah memasang tenda-tenda pelayanan kesehatan di sekitar puskesmas yang mengalami kerusakan. Fasilitas tersebut digunakan untuk memastikan masyarakat tetap memperoleh pelayanan medis meskipun bangunan utama tidak dapat difungsikan.

Pemerintah juga menyiagakan tim medis untuk menangani kemungkinan munculnya kasus baru, termasuk bagi masyarakat yang masih berada di wilayah terisolasi.

Benjamin memastikan koordinasi lintas kementerian dan lembaga terus diperkuat. Sumber daya kesehatan dari berbagai daerah dikerahkan untuk mempercepat penanganan korban sekaligus memastikan kebutuhan medis masyarakat terdampak tetap terpenuhi.

Proses pencarian dan evakuasi korban juga masih berlangsung. Pemerintah mengantisipasi kemungkinan ditemukannya korban lain di sejumlah wilayah yang hingga kini masih dalam penanganan.

Dengan pengerahan tenaga kesehatan, pembangunan fasilitas medis darurat, serta dukungan lintas daerah, pemerintah berupaya menjaga pelayanan kesehatan bagi masyarakat terdampak bencana di Flores tetap berjalan di tengah kondisi darurat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Tutup