WARTAXPRESS.com — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali melemah pada perdagangan Senin 9 Maret 2026, seiring penguatan mata uang Negeri Paman Sam dan tekanan dari kenaikan harga minyak dunia.

Di pasar spot, rupiah ditutup melemah sebesar Rp24 atau sekitar 0,14 persen ke level Rp16.949 per dolar AS. Sementara itu, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) juga tercatat turun Rp55 atau sekitar 0,33 persen menjadi Rp16.974 per dolar AS.

Pelemahan rupiah terjadi di tengah penguatan indeks dolar AS yang naik 0,50 persen ke posisi 99,48. Kenaikan indeks tersebut mencerminkan penguatan dolar terhadap sejumlah mata uang utama dunia.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan pemerintah berupaya memitigasi dampak kenaikan harga minyak global melalui kebijakan anggaran negara.

Menurut dia, lonjakan harga minyak berpotensi meningkatkan beban subsidi energi dalam APBN. Meski demikian, Kementerian Keuangan masih akan mengevaluasi dampak kenaikan harga minyak tersebut terhadap anggaran negara sebelum menentukan langkah kebijakan lebih lanjut.

Pemerintah dalam APBN tahun ini menetapkan asumsi harga minyak mentah rata-rata sebesar 90 dolar AS per barel. Sementara itu, harga minyak Brent pada perdagangan terbaru telah menembus level 106,69 dolar AS per barel.

Di kawasan Asia, mayoritas mata uang juga tercatat melemah terhadap dolar AS. Peso Filipina menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam yakni sekitar 0,81 persen, diikuti rupee India yang turun 0,78 persen dan baht Thailand melemah 0,73 persen.

Selanjutnya dolar Taiwan tercatat turun 0,66 persen, won Korea Selatan melemah 0,53 persen, serta ringgit Malaysia turun 0,52 persen. Yen Jepang juga tercatat melemah 0,50 persen.

Selain itu, dolar Singapura turun sekitar 0,30 persen dan yuan China melemah 0,21 persen terhadap dolar AS. Sementara dolar Hong Kong menjadi satu-satunya mata uang di kawasan yang masih menguat, yakni sekitar 0,10 persen terhadap dolar AS.