Pesinetron Ana Riana Rugi Ratusan Juta Gegara Beli Unit Apartemen Mangkrak di Ciputat
WARTAXPRESS.com- Pesinetron Ana Riana mengaku mengalami kerugian ratusan juta rupiah setelah apartemen yang dibelinya di Ciputat, Tangerang Selatan, mangkrak.
Dari total uang yang telah disetorkannya kepada pengembang, Ana hanya menerima sekitar 8 persen setelah perusahaan dinyatakan pailit.
Ana membeli unit dua kamar tidur di The Spring Residence, Jalan Otista Raya, Ciputat, pada 2015 dengan harga sekitar Rp550 juta.
Saat itu, ia memilih apartemen tersebut karena membutuhkan tempat untuk kegiatan syuting endorsement sekaligus mempertimbangkannya sebagai investasi jangka panjang.
Pembayaran dilakukan secara bertahap langsung kepada pengembang. Ana mengaku harus membayar cicilan sekitar Rp22,5 juta setiap bulan.
Ia memilih skema tersebut karena tidak dapat mengajukan KPR akibat pekerjaannya sebagai public figure yang tidak memiliki slip gaji.
“Nah saya mikirnya kalau di Jakarta Selatan itu kan harga segitu tuh (Rp 550 jutaan) cuma dapat studio aja kan. Nah kalau minggir sedikit di daerah Ciputat itu udah dapet dua kamar. Terus dia juga ngasih fasilitas yang bagus banget dibanding apartemen-apartemen di sekitarnya,” ujar Ana dikutip dari Detikcom, Jumat 25 September 2026.
Ana mengatakan, saat membeli unit tersebut, dirinya telah mengecek pengembang dan tidak menyangka proyek tersebut akhirnya berhenti.
Pembangunan apartemen diketahui telah dimulai sejak 2015 dan disebut telah mencapai sekitar 70-80 persen sebelum akhirnya terhenti.
Masalah mulai diketahui Ana setelah memasuki cicilan bulan ke-14. Informasi mengenai kendala pembangunan muncul melalui grup konsumen yang dibuat pengembang.
Meski demikian, pihak pengembang saat itu masih memberikan informasi bahwa proyek akan tetap dilanjutkan.
Ana kemudian mendatangi lokasi untuk memastikan kondisi proyek. Saat itu, ia masih melihat sejumlah pekerja berada di lokasi, meski jumlahnya disebut sudah sangat sedikit.
Bersama konsumen lainnya, Ana kemudian berulang kali melakukan pertemuan dengan pihak pengembang untuk meminta kepastian mengenai kelanjutan proyek maupun pengembalian dana.
Menurut Ana, mediasi berlangsung hingga puluhan kali, tetapi pihak perusahaan yang menemui konsumen disebut hanya perwakilan dan berganti-ganti.
Ana akhirnya meminta penghentian pembayaran dan mengajukan pengembalian dana karena kondisi keuangannya membutuhkan kepastian. Ia mengaku saat itu membutuhkan dana untuk persiapan pernikahan dan tempat tinggal.
“Tolong dong bantuin saya buat refund, saya bilang gitu. Karena saya jujur aja, saya udah nggak syuting. Terus saya tuh butuh banget dananya karena saya mau nikah. Terus udah gitu biaya after nikahnya gitu kan yang tadi abis nikah tuh kita tuh harusnya udah punya tempat tinggal sendiri, tapi gara-gara kasus ini, gara-gara apartemen ini kan saya jadi harus pengeluaran double gitu kan. Bayar apartemennya juga, terus bayar sewa tempat, atau saya cari rumah lain juga gitu, jadi cash flownya tuh hancur,” ungkap Ana.
Dalam kesepakatan refund, pengembang disebut harus mengembalikan dana yang telah disetor Ana sebesar Rp315 juta. Ana meminta pengembalian dilakukan secara bertahap sebesar Rp30 juta setiap bulan.
Namun, pembayaran yang diterimanya hanya Rp30 juta dan dicicil selama tiga bulan. Setelah itu, Ana mengaku tidak lagi menerima pengembalian dana dari pengembang.
Perjuangan Ana untuk mendapatkan kembali uangnya berlangsung selama bertahun-tahun. Hingga akhirnya PT Kembang Sari Buana dinyatakan pailit pada 2024 karena tidak mampu membayar utang yang telah jatuh tempo.
Dalam proses kepailitan tersebut, konsumen disebut hanya mendapatkan sekitar 8 persen dari total dana yang telah dibayarkan.

Bagi Ana, nilai tersebut hanya sekitar Rp25 jutaan dari dana yang sebelumnya telah disetorkan.
“Daripada semuanya hilang, mau nggak mau saya ambil tuh yang 8 persen itu. Cuma dalam hati itu kayak nggak ikhlas. Masa sih kita kan mati-matian banting tulang bertahun-tahun dan itu tuh bukan duit kecil dan itu tuh kayak upaya kita buat masa depan kita gitu kan. Kok hasil banting tulang, kok lenyap gitu aja gitu. Jadi sedih banget,” ungkapnya.
The Spring Residence sendiri sebelumnya direncanakan memiliki dua tower dengan sejumlah fasilitas, termasuk area kuliner dan bioskop. Proyek tersebut dikerjakan PT Kembang Sari Buana, anak usaha PT Gading Development Tbk.
Berdasarkan pantauan detikcom di lokasi sekitar pukul 09.00 WIB, bangunan apartemen masih terlihat berdiri dari sisi jalan.
Namun, akses menuju kawasan tersebut telah tertutup pagar besi setinggi sekitar dua meter yang dilapisi spanduk dan triplek.
Di dalam area tampak pepohonan yang tumbuh tinggi. Sementara marketing gallery terlihat sudah terbengkalai, sedangkan plang bertuliskan “THE SPRING RESIDENCES” masih terpasang di pinggir jalan.

Tinggalkan Balasan