Dentuman Misterius Guncang Bandung Raya, Diduga Terkait Erupsi Anak Krakatau

Suara dentuman misterius terdengar di sejumlah wilayah Bandung Raya. Dok.Istemewa

WARTAXPRESS.com  — Suara dentuman misterius terdengar di sejumlah wilayah Bandung Raya pada Jumat (4/9/2026) malam hingga Sabtu (5/9/2026) dini hari. Fenomena tersebut hingga kini masih menjadi perhatian dan menimbulkan tanda tanya di tengah masyarakat.

Badan Geologi mengungkapkan, salah satu kemungkinan sumber suara dentuman tersebut adalah aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda yang terjadi pada waktu berdekatan.

Kepala Badan Geologi Lana Saria mengatakan, meski jarak Gunung Anak Krakatau dengan Bandung cukup jauh, suara yang ditimbulkan oleh erupsi gunung api dapat merambat hingga ratusan kilometer.

“Ketika erupsi dengan tipe fountain (air mancur lava) ini terjadi, pelepasan energi akustiknya bisa sangat besar,” kata Lana dalam konferensi pers daring, Sabtu (5/9/2026).

Menurut Lana, energi akustik yang dilepaskan saat erupsi dapat menjalar dalam jarak yang sangat jauh. Fenomena serupa bahkan pernah dilaporkan terdengar hingga wilayah Pantai Utara Jawa.

Dugaan keterkaitan dentuman di Bandung dengan aktivitas Anak Krakatau didasarkan pada pencocokan waktu antara terjadinya erupsi dengan laporan suara dari masyarakat.

Pernah Terjadi Saat Erupsi Anak Krakatau 2020

Badan Geologi juga membandingkan fenomena tersebut dengan kejadian pada 2020. Kala itu, suara dentuman terdengar di sejumlah wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, hingga Bekasi.

Berdasarkan pencocokan waktu, suara dentuman tersebut berkesesuaian dengan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau pada 10 April 2020 pukul 21.58 WIB dan 22.35 WIB.

Lana mengatakan, pada saat itu tidak ditemukan gempa tektonik signifikan yang dapat menjelaskan suara dentuman tersebut.

“Pada saat itu, hasil pemantauan BMKG memang tidak ada gempa tektonik signifikan di wilayah Jawa Barat, DKI Jakarta, dan Banten yang dapat menjelaskan suara tersebut,” ujarnya.

Meski demikian, Badan Geologi belum memastikan secara mutlak bahwa dentuman yang terdengar di Bandung Raya berasal dari Anak Krakatau.

Lana menegaskan, kesamaan waktu antara aktivitas erupsi dan laporan masyarakat baru menunjukkan adanya indikasi korelasi.

“Meskipun kami memang menduga itu berhubungan dengan Anak Krakatau, kesamaan waktu itu memang merupakan indikasi korelasi yang belum dengan sendirinya membuktikan sumber dentuman secara pasti,” tutur Lana.

Erupsi Kelud Juga Pernah Terdengar Jauh

Fenomena suara erupsi yang terdengar hingga wilayah yang jauh dari sumbernya bukan kali pertama terjadi.

Badan Geologi mencatat suara dentuman akibat erupsi Gunung Kelud pada 13 Februari 2014 juga dilaporkan terdengar di sejumlah wilayah Jawa Tengah.

Saat itu, erupsi Gunung Kelud menghasilkan kolom erupsi hingga sekitar 17 kilometer. Besarnya erupsi tersebut membuat energi akustik yang dilepaskan juga sangat besar.

“Jadi memang berdasarkan data pemantauan, termasuk juga data-data yang kami peroleh dari literatur, memang ada kemungkinan juga erupsi itu bisa terdengar pada jarak yang cukup jauh,” jelas Lana.

Dengan mempertimbangkan pengalaman erupsi Anak Krakatau pada 2020 dan Gunung Kelud pada 2014, Badan Geologi menilai aktivitas Gunung Anak Krakatau menjadi salah satu kemungkinan sumber suara dentuman yang terdengar di sejumlah wilayah Jawa Barat dalam dua hari terakhir.

Anak Krakatau Masih Berstatus Siaga

Di sisi lain, Badan Geologi memastikan kondisi Gunung Anak Krakatau masih dalam pemantauan intensif.

Berdasarkan hasil evaluasi, pertumbuhan tubuh Gunung Anak Krakatau yang terbentuk kembali setelah erupsi 22 Desember 2018 masih relatif kecil.

Kondisi tersebut dinilai belum berpotensi mengalami keruntuhan dalam skala besar yang dapat memicu tsunami.

Meski begitu, perkembangan aktivitas vulkanik dan perubahan morfologi Gunung Anak Krakatau tetap dipantau secara intensif.

Hingga saat ini, status Gunung Anak Krakatau masih berada pada Level III (Siaga).

Masyarakat diminta tetap mewaspadai potensi bahaya aktivitas vulkanik, antara lain aliran lava, lontaran material pijar, serta hujan abu lebat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Tutup