Emas Tembus Aksi Global Listing Hong Kong, Nilai Transaksi Bisa Lewat Rp5 Triliun

Emas Antam, Dok. Istimewa.

WARTAXPRESS.com- Pasar modal kembali diguncang kabar besar dari emiten tambang emas nasional. PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) resmi melangkah ke panggung internasional dengan rencana pencatatan saham di bursa Hong Kong melalui skema Global Offering Hong Kong Depositary Receipts (HDR).

Langkah ini menandai ekspansi agresif perusahaan ke pasar global yang lebih kompetitif dan likuid.

Dalam aksi korporasi tersebut, EMAS menawarkan sekitar 89,67 juta HDR dengan harga penawaran maksimum mencapai HK$26,6 per HDR.

Jika seluruh penawaran terserap di harga puncak, nilai transaksi diperkirakan menembus HK$2,38 miliar atau setara lebih dari Rp5 triliun. Angka ini langsung menarik perhatian pelaku pasar karena tergolong jumbo untuk skema secondary listing berbasis HDR.

Namun yang menjadi sorotan utama bukan sekadar nilai transaksinya, melainkan struktur deal yang digunakan. Berdasarkan prospektus resmi, seluruh HDR yang dilepas berasal dari pemegang saham lama (selling shareholders).

Artinya, tidak ada saham baru yang diterbitkan, dan EMAS tidak memperoleh dana segar sedikit pun dari transaksi ini.

Manajemen EMAS menegaskan hal tersebut secara eksplisit:

“Seluruh HDR yang ditawarkan dalam global offering merupakan sale HDRs yang akan dijual oleh para pemegang saham. Oleh karena itu, kami tidak akan menerima hasil bersih apa pun dari global offering. Para Pemegang Saham Penjual akan menerima seluruh hasil bersih dari global offering,” tulis manajemen EMAS dalam prospektus pada Rabu (17/6/2026).

Beberapa nama besar tercatat dalam aksi pelepasan saham ini, termasuk investor awal dan pengendali Grup Merdeka seperti Alexander Ramlie, serta sejumlah pihak yang terafiliasi dengan pemegang saham pengendali.

Tidak hanya itu, Komisaris EMAS Winato Kartono disebut melepas puluhan juta saham, sementara Direktur PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) Hardi Wijaya Liong juga ikut melakukan divestasi dalam jumlah signifikan.

Entitas investasi seperti Continuum SPC, PT Nugraha Eka Kencana, hingga PT Unitras Kapital Indonesia yang terhubung dengan ekosistem Grup Merdeka juga turut ambil bagian dalam penjualan ini.

Meski terjadi aksi jual besar, perusahaan memastikan bahwa seluruh biaya pencatatan di bursa Hong Kong Stock Exchange ditanggung oleh para penjual, sehingga tidak membebani neraca keuangan EMAS.

Banyak analis menilai langkah ini sebagai bagian dari strategi likuiditas investor awal, bukan sekadar aksi keluar pasar. Dengan masuknya EMAS ke Hong Kong, perusahaan secara tidak langsung membuka pintu bagi eksposur global yang lebih luas terhadap sektor emas Indonesia.

“Ini bukan sekadar aksi jual, tetapi rotasi kepemilikan menuju pasar yang lebih global. Hong Kong memberikan likuiditas dan visibilitas yang jauh lebih besar dibandingkan pasar domestik,”tambahnya.

Namun di sisi lain, sebagian pelaku pasar tetap mencermati fakta bahwa tidak adanya dana masuk ke perusahaan bisa menjadi sinyal netral bagi fundamental jangka pendek. Artinya, dampak langsung terhadap ekspansi operasional EMAS relatif terbatas.

Meski tidak menambah kas perusahaan, aksi global offering ini dipandang mampu meningkatkan branding internasional EMAS sebagai salah satu pemain tambang emas yang siap bersaing di level regional Asia.

Listing di pasar seperti Hong Kong Stock Exchange juga sering diasosiasikan dengan peningkatan transparansi dan standar tata kelola yang lebih ketat.

Di tengah kondisi pasar komoditas yang fluktuatif, langkah EMAS ini berpotensi menjadi katalis sentimen jangka menengah, terutama bagi investor yang mengincar sektor berbasis emas dan sumber daya alam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Tutup