Rupiah Melemah, Puskesmas di Kabupaten Tangerang Bakal Pangkas Jatah Obat Pasien

F-H F-H

WARTAXPRESS.com– Nilai tukar rupiah melempah terhadap dolar Amerika Serikat juga berdampak pada sektor kesehatan sehingga harus melakukan pangkas obat.

Pemerintah Kabupaten Tangerang menyiapkan sejumlah langkah antisipasi setelah muncul potensi kenaikan harga sektor kesehobat-obatan yang sebagian besar masih bergantung pada bahan baku impor.

Salah satu langkah yang akan diterapkan adalah perubahan pola distribusi obat di puskesmas. Jika sebelumnya pasien bisa menerima persediaan obat hingga 10 hari, ke depan jumlah tersebut akan pangkas obat menjadi lima hari untuk menjaga ketersediaan stok.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang Hendra Tarmizi mengatakan, kebijakan tersebut disiapkan agar pasokan obat di seluruh fasilitas kesehatan tetap aman meski harga mengalami kenaikan.

“Kita coba usulkan tambahan anggaran, tapi yang penting stok obat tetap tersedia. Yang biasanya diberikan untuk 10 hari, nanti menjadi 5 hari dulu,” ujarnya dikutip dari IDN Times, Senin 15 Juni 2026.

Menurut Hendra, perubahan tersebut tidak akan mengurangi kualitas pelayanan maupun efektivitas pengobatan. Pasien hanya perlu melakukan kontrol kembali dalam waktu yang lebih cepat untuk memperoleh obat berikutnya.

“Sama saja, hanya pengulangan kontrolnya lebih cepat,” katanya.

Serupa, RSUD Tigaraksa juga memilih memperkuat persediaan obat guna menghadapi kemungkinan lonjakan harga dalam beberapa waktu mendatang karena rupiah melemah.

Direktur RSUD Tigaraksa dr. Muhammad Faridzi Fikri mengungkapkan, pihaknya telah memperoleh informasi dari distributor terkait rencana penyesuaian harga obat.

Berdasarkan perkiraan sementara, kenaikan harga bisa mencapai 15 hingga 20 persen.

“Kalau melihat nilai dolar saat ini, kemungkinan kenaikannya sekitar 15 sampai 20 persen. Tapi kami belum menerima harga pastinya,” ujar Faridzi.

Ia menjelaskan kenaikan harga lebih berpotensi terjadi pada obat-obatan yang masih mengandalkan bahan baku impor.

Kondisi tersebut terutama berlaku untuk obat penyakit kronis dan terapi tertentu yang belum sepenuhnya diproduksi di dalam negeri.

Meski demikian, RSUD Tigaraksa memastikan pelayanan kepada masyarakat tidak akan terganggu.

Rumah sakit telah menyiapkan stok cadangan yang diperkirakan cukup untuk memenuhi kebutuhan hingga enam bulan ke depan.

“Kami sudah menyiapkan buffer stock atau stok cadangan hingga enam bulan ke depan sambil melihat perencanaan kebutuhan tahun 2027,” katanya.

Faridzi menyebut beberapa jenis obat yang berisiko terdampak kenaikan harga antara lain antibiotik, obat hipertensi, hingga obat untuk penanganan kanker.

Sementara itu, obat-obatan dasar seperti vitamin dan obat ringan lainnya diperkirakan masih relatif aman karena banyak diproduksi oleh industri farmasi dalam negeri.

“Obat-obatan penyakit kronis dan kanker biasanya masih banyak yang impor. Kalau vitamin dan obat dasar lainnya mudah-mudahan masih tersedia dari produksi lokal,” ujarnya.

Untuk mengantisipasi tekanan anggaran, pihak rumah sakit juga menyiapkan langkah efisiensi pada sejumlah kebutuhan non-prioritas apabila kenaikan harga obat benar-benar terjadi.

Di sisi lain, peserta BPJS Kesehatan dipastikan tetap memperoleh layanan pengobatan sesuai ketentuan yang berlaku karena biaya pengobatan masih ditanggung melalui skema jaminan kesehatan nasional

Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang menegaskan kebijakan pengurangan jatah obat tersebut hanya bersifat sementara.

Jika harga obat kembali stabil atau tambahan anggaran telah tersedia, distribusi obat akan dikembalikan seperti semula.

“Kebijakan ini akan berjalan selama harga obat masih tinggi. Kalau kondisi sudah normal, tentu akan kembali seperti semula,” pungkas Hendra.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Tutup