Sudah Tahu Bakal Kalah, Kenapa Pecandu Judi Online Tetap Main? Psikiater Ungkap Penyebabnya
WARTAXPRESS.com– Banyak orang menganggap seseorang akan berhenti berjudi setelah mengalami kerugian besar. Namun kenyataannya, tidak sedikit pelaku judi online yang tetap bermain meski tabungan habis, terlilit utang, bahkan kehilangan aset berharga.Menurut dokter spesialis kejiwaan konsultan RSJD Surakarta, Adriesti Herdaetha, kecanduan judi online berkaitan dengan perubahan fungsi otak yang memengaruhi kemampuan seseorang dalam mengendalikan dorongan dan mengambil keputusan.
Ia menjelaskan, orang yang sudah mengalami adiksi sebenarnya memahami risiko kekalahan yang besar.
Namun dalam kondisi tertentu, dorongan untuk terus bermain justru lebih kuat dibanding pertimbangan logis yang dimiliki.
“Logikanya tahu akan kalah, tapi impulsivitasnya menang. Akhirnya dia terus berjudi untuk menutup kerugian sebelumnya,” terangnya dikutip dari Kompas, Selasa 2 Juni 2026.
Penyebab Kecanduan Judi Online Meski Tahu Bakal Rugi
Menurutnya, kondisi tersebut terjadi karena adanya gangguan pada sistem kontrol impuls dan sistem reward di otak.
Saat seseorang pernah merasakan kemenangan atau kesenangan ketika berjudi, otak akan merekam pengalaman tersebut sebagai sesuatu yang menyenangkan dan ingin diulang kembali.
Akibatnya, meski berkali-kali mengalami kekalahan, pelaku tetap terdorong untuk terus bermain dengan harapan bisa mendapatkan kembali sensasi yang sama.
“Awalnya mungkin iseng dan pernah menang. Otak kemudian mencari sensasi senang itu lagi. Akhirnya diulang terus,” tuturnya.
Kecanduan judi online juga dapat dikenali melalui sejumlah tanda. Mulai dari terus memikirkan aktivitas perjudian, merasa gelisah ketika tidak bermain, meningkatkan frekuensi permainan, hingga tetap berjudi meski sudah mengalami kerugian berulang kali.
Dalam kondisi yang lebih serius, aktivitas tersebut mulai mengganggu pekerjaan, hubungan sosial, maupun kondisi keuangan.
Tidak sedikit pula yang akhirnya berbohong kepada keluarga atau menyembunyikan kebiasaan berjudi.
Pada anak dan remaja, gejalanya bisa muncul dalam bentuk perubahan perilaku, sulit melepaskan diri dari telepon genggam, penurunan prestasi belajar, hingga mengambil uang milik orang tua tanpa izin.
“Kalau sudah HP diambil lalu marah besar, itu juga harus mulai diwaspadai,” ujar dia.
Lebih lanjut, dr. Etha menegaskan, pemulihan kecanduan judi online tidak bisa hanya mengandalkan pengobatan medis.
Keterlibatan keluarga menjadi salah satu faktor penting dalam membantu proses pemulihan.
Menurutnya, langkah awal yang paling sulit adalah membangun kesadaran bahwa perilaku berjudi telah membawa dampak buruk bagi diri sendiri maupun lingkungan sekitar.
“Yang paling sulit itu menumbuhkan kesadaran. Karena keluarga biasanya ingin hasil instan, padahal terapi adiksi perlu waktu,” katanya.
Selain melalui psikoterapi, penanganan juga dapat disesuaikan dengan kondisi lain yang menyertai pasien, seperti depresi, gangguan kecemasan, maupun gangguan bipolar.
Pada beberapa kasus, pasien juga menjalani terapi Transcranial Magnetic Stimulation (TMS), yaitu terapi stimulasi magnetik pada otak yang bertujuan membantu memperbaiki sistem kontrol impuls dan sistem reward yang terganggu akibat adiksi.

Tinggalkan Balasan