UMT Jadi Tuan Rumah Pengkajian Ramadan 1447 H, Haedar Nashir Tekankan Perluasan Pemahaman Tauhid
TANGERANG, WARTAXPRESS.com – Universitas Muhammadiyah Tangerang (UMT) menjadi tuan rumah Pengkajian Ramadan 1447 Hijriah yang diselenggarakan oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah pada 24–26 Februari 2026.
Kegiatan yang berlangsung di Auditorium Lantai 19 UMT tersebut dihadiri lebih dari 1.000 peserta dari unsur Organisasi Otonom Muhammadiyah (Ortom) serta civitas akademika Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) se-Banten dan DKI Jakarta.
Pengkajian Ramadan tahun ini mengangkat tema “Akidah Islam Berkemajuan: Memperluas Paham Tauhid Murni Tinjauan Ideologis, Filosofis, dan Praksis.” Kegiatan ini menjadi momentum penguatan ideologi dan pemahaman keislaman berkemajuan menjelang bulan suci Ramadan.
Rektor UMT, Desri Arwen, dalam sambutannya menegaskan komitmen UMT sebagai Kampus Unggul dalam mendukung penguatan nilai-nilai Islam berkemajuan melalui pengembangan akademik dan kaderisasi.
Ia menyebut forum ini sebagai bagian dari kontribusi strategis UMT dalam memperkuat gerakan keilmuan dan dakwah Muhammadiyah.
Sementara itu, Ketua Majelis Pembinaan Kader SDI PP Muhammadiyah, Bachtiar Dwi Kurniawan, menekankan bahwa penguatan akidah menjadi fondasi utama gerakan Muhammadiyah di tengah dinamika sosial dan tantangan keumatan yang terus berkembang.
Pidato iftitah disampaikan oleh Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir. Dalam paparannya, Haedar menegaskan bahwa pemahaman tauhid tidak dapat dilepaskan dari konteks sejarah dan dinamika sosial-politik yang melatarbelakanginya.
Menurutnya, pemikiran tokoh-tokoh seperti Ibnu Taimiyah dan Muhammad bin Abdul Wahab lahir sebagai respons atas kondisi zamannya.
Ia menjelaskan bahwa Ibnu Taimiyah yang hidup pasca-serangan Mongol menyerukan kembali kepada Al-Qur’an dan hadis serta mengkritisi praktik keagamaan yang dinilai menyimpang.
Pemikiran tersebut kemudian menginspirasi Muhammad bin Abdul Wahab dalam melakukan gerakan pemurnian akidah di abad berikutnya.
“Pemikiran mereka merupakan jawaban yang tepat pada masanya. Untuk konteks hari ini, dibutuhkan perluasan pemaknaan tauhid agar tetap relevan dengan perkembangan zaman,” ujar Haedar.
Sebagai gerakan tajdid, lanjutnya, Muhammadiyah memurnikan akidah, ibadah, dan akhlak berdasarkan Al-Qur’an dan Sunah.
Namun dalam ranah muamalah duniawiyah, Muhammadiyah membuka ruang ijtihad, rasionalitas, dan pengembangan ilmu pengetahuan.
Haedar juga menegaskan pentingnya Manhaj Tarjih dalam merumuskan pandangan keagamaan, melalui pendekatan bayani (tekstual), burhani (rasional-kontekstual), dan irfani (spiritual).
Dalam rangkaian kegiatan tersebut turut dilaksanakan penandatanganan Nota Kesepahaman antara Bank Syariah Nasional dengan PP Muhammadiyah, yang dirangkaikan dengan penyerahan bantuan tiga unit motor angkut sampah kepada UMT.
Selain itu, Sinar Mas menyerahkan bantuan mushaf Al-Qur’an sebagai dukungan terhadap penguatan dakwah dan literasi keislaman.
Melalui Pengkajian Ramadan 1447 H ini, Muhammadiyah meneguhkan komitmennya dalam memperkuat pemahaman ideologis, filosofis, dan praksis nilai-nilai tauhid dalam kehidupan berorganisasi dan bermasyarakat.

Tinggalkan Balasan