9 WNI Misi Kemanusiaan Gaza Tiba di Indonesia, Aktivis Ungkap Dugaan Kekerasan Saat Ditahan Militer Israel
TANGERANG, WARTAXPRESS.com — Sembilan warga negara Indonesia (WNI) yang tergabung dalam misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla akhirnya kembali ke Tanah Air melalui Bandara Internasional Bandar Udara Internasional Soekarno–Hatta, Minggu (24/5/2026) petang.
Kedatangan mereka disambut hangat keluarga, relawan, dan sejumlah pendukung kemanusiaan Palestina.
Para WNI tersebut sebelumnya ditahan oleh militer Israel saat menjalankan misi pengiriman bantuan kemanusiaan menuju Gaza, Palestina. Mereka diketahui berada di atas kapal Zenero yang dicegat di perairan menuju wilayah Gaza pada 19 Mei lalu.
Suasana haru terlihat di area kedatangan internasional ketika satu per satu aktivis keluar dari terminal dan bertemu keluarga mereka. Beberapa kerabat tampak memeluk para relawan yang baru tiba setelah menjalani penahanan selama beberapa hari.
Menteri Luar Negeri RI, Sugiono, menyampaikan rasa syukur atas kepulangan seluruh WNI dalam kondisi selamat. Pemerintah, kata dia, melakukan koordinasi dan komunikasi diplomatik dengan berbagai pihak untuk memastikan proses pembebasan berjalan lancar.
“Hari ini kita menyambut teman-teman aktivis kemanusiaan yang sebelumnya ditahan oleh militer Israel. Alhamdulillah seluruh WNI dapat kembali dengan selamat setelah melalui koordinasi dan negosiasi dengan berbagai pihak,” ujar Sugiono di Bandara Soekarno-Hatta.
Ia juga mengapresiasi dukungan sejumlah negara sahabat, termasuk Turki, Yordania, dan Mesir, yang turut membantu proses pemulangan para relawan Indonesia.
Sementara itu, salah satu aktivis Indonesia dalam misi tersebut, Ronggo Wirasanu, menceritakan situasi menegangkan ketika kapal yang mereka tumpangi dihentikan oleh militer Israel di tengah perjalanan menuju Gaza.
Menurut Ronggo, kapal mereka awalnya didekati kapal perang berukuran besar sebelum dua speedboat melakukan intersepsi. Seluruh peserta misi dari berbagai negara kemudian dipindahkan ke kapal militer Israel.
Ia mengaku mengalami tekanan selama masa penahanan. Para aktivis disebut dipindahkan dari kapal militer menuju pelabuhan Ashdod sebelum menjalani proses pemeriksaan imigrasi dan penahanan lebih lanjut.
“Kami mengalami berbagai kesulitan selama ditahan. Dari kapal militer, kami dipindahkan ke pelabuhan hingga ke tempat penahanan,” kata Ronggo.
Ronggo menambahkan, kondisi ruang tahanan sangat terbatas sehingga para aktivis sempat melakukan aksi mogok makan selama dua hari sebagai bentuk protes.
Dalam proses hukum yang dijalani, mereka mendapat pendampingan dari tim pengacara organisasi HAM Adalah.
Meski mengalami tekanan selama misi berlangsung, Ronggo menegaskan dirinya tetap berkomitmen untuk terlibat dalam kegiatan kemanusiaan bagi warga Palestina.
Menurutnya, misi tersebut bukan hanya untuk menyalurkan bantuan, tetapi juga menarik perhatian dunia internasional terhadap kondisi masyarakat Gaza yang terdampak konflik berkepanjangan.
Dalam kesempatan yang sama, pemerintah Indonesia kembali mengecam tindakan Israel yang dianggap melanggar hukum internasional karena menahan warga sipil dalam misi kemanusiaan. Pemerintah berharap insiden serupa tidak kembali terjadi di masa mendatang.

Tinggalkan Balasan