BMKG Prediksi 2026 Bakal Kemarau Panjang, Dimulai dari April
WARTAXPRESS.com- Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan musim kemarau 2026 di Indonesia akan mulai terjadi pada April dan berlangsung lebih panjang dari kondisi normal.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan, sebagian besar wilayah Indonesia akan mulai memasuki musim kemarau pada periode tersebut.
“Awal musim kemarau bahwa sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi masuk musim kemarau pada periode April, yaitu ada 114 zona musim atau 16,3 persen dari seluruh zona musim yang ada di Indonesia sejumlah 699,” kata Teuku dalam keterangan pers, Rabu, 4 Maret 2026.
Ia menjelaskan, musim kemarau akan lebih dulu terjadi di wilayah Nusa Tenggara sebelum bergerak secara bertahap ke arah barat dan mencakup wilayah Indonesia lainnya.
Berdasarkan data BMKG, awal musim kemarau di sebagian besar wilayah bahkan diprediksi datang lebih cepat.
Sebanyak 325 zona musim atau 46,5 persen dari total zona musim diperkirakan mengalami kemarau lebih awal.
Selama periode tersebut, curah hujan berada dalam kategori kering.
“Akumulasi curah hujan pada periode musim kemarau di sebagian besar wilayah Indonesia yaitu di 451 zona musim atau 64,5 persen dari seluruh zona musim diprediksi pada kategori bawah normal atau mudahnya lebih kering dari biasanya,” jelas Teuku.
BMKG juga memprakirakan puncak musim kemarau akan terjadi pada Agustus 2026. Selain itu, durasi kemarau tahun ini diprediksi lebih panjang dibandingkan rata-rata tahunan.
“Sebagian besar wilayah Indonesia atau di 400 zona musim atau 57,2 persen diprediksi mengalami musim kemarau yang lebih panjang dari normalnya. Jadi ini perlu dicatat bahwa musim kemarau yang akan kita hadapi di tahun 2026 akan lebih panjang dari normalnya,” ujarnya.
Teuku berharap informasi prakiraan ini dapat menjadi acuan bagi para pemangku kebijakan dalam menyusun langkah mitigasi, antisipasi, serta kebijakan jangka panjang di berbagai sektor yang terdampak faktor iklim.
“Kami berharap informasi prediksi musim kemarau 2026 ini dapat menjadi panduan umum dalam penetapan perencanaan langkah mitigasi dan antisipasi serta kebijakan jangka panjang bagi berbagai sektor yang terdampak iklim,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan