TANGERANGKOTA, WARTAXPRESS.com Di tengah pesatnya pembangunan fisik, Kota Tangerang kini menghadapi tantangan serius dari sektor pembiayaan daerah. Ketua DPRD Kota Tangerang, Rusdi Alam, mengungkapkan bahwa Pendapatan Asli Daerah (PAD) kota bermoto Akhlakul Kharimah ini mulai menyentuh titik jenuh akibat keterbatasan lahan investasi.

Hal tersebut disampaikan Rusdi dalam kegiatan Bincang Ramadan yang digelar Kelompok Kerja Wartawan Harian Tangerang Raya (Pokja WHTR) di Sekretariat Pokja, Jalan Perintis Kemerdekaan, Selasa (03/03/26).

Membuka diskusi dengan suasana hangat menjelang berbuka puasa, Rusdi Alam menekankan pentingnya prinsip peningkatan kualitas diri dan daerah. Ia mengutip kaidah reflektif untuk memotivasi pembangunan kota.

“Barang siapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, maka dia orang yang beruntung. Ini harus jadi prinsip kita dalam membangun Kota Tangerang,” ujar Rusdi di hadapan para jurnalis.

Ia mengakui bahwa Kota Tangerang memang langganan banjir penghargaan setiap tahunnya. Namun, ia mengingatkan bahwa di balik prestasi tersebut, ada realita sulit terkait kemandirian fiskal di wilayah yang kian padat.

Berdasarkan UU Hubungan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah (HKPD), Kota Tangerang memang diuntungkan sebagai wilayah penyangga Jakarta dengan nilai tanah yang tinggi.

Sektor Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) serta Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) masih menjadi tulang punggung.

Namun, Rusdi memberikan perbandingan menohok terkait keterbatasan ruang dibandingkan wilayah kabupaten tetangga, PBB Kota Tangerang mencatatkan angka sekitar Rp570 miliar, sedangkan BPHTB di angka Rp600-an miliar.

“Di Kabupaten, BPHTB bisa tembus Rp1,9 triliun. Kenapa? Karena mereka masih punya lahan luas untuk dikembangkan. Kita di kota hampir seluruh wilayahnya sudah terbangun. Kita sudah sampai di titik jenuh investasi baru,” jelasnya.

Penurunan ini juga terlihat signifikan pada retribusi Persetujuan Bangunan Gedung (PBG). Jika dahulu retribusi IMB bisa mencapai Rp167 miliar, kini mengejar target Rp30 miliar saja dirasa sangat berat karena minimnya pembangunan proyek baru berskala besar.

Tanpa optimalisasi anggaran, perencanaan sehebat apa pun akan sulit terealisasi. Mengingat kondisi kota yang sudah given (terbentuk secara fisik), ia mendorong pemerintah eksekutif untuk lebih inovatif.

Langkah strategis yang disoroti antara lain optimalisasi aset-aset daerah yang sudah ada, formulasi pajak yang tidak membebani masyarakat namun tetap kompetitif, serta penguatan sektor jasa, hotel, dan restoran sebagai kompensasi terbatasnya lahan industri/properti.

Ketua Panitia Pelaksana, Hendra Wibisana, menyatakan bahwa forum Bincang Ramadan ini sengaja digelar sebagai ruang dialog terbuka antara pemangku kebijakan dan insan pers.

“Kami berharap forum ini menjadi tradisi tahunan untuk mengurai isu strategis daerah dalam suasana yang lebih santai namun tetap berbobot,” kata Hendra.

Acara yang juga dihadiri Anggota DPRD Kota Tangerang, Mustofa Kamaludin, ini ditutup dengan sesi diskusi interaktif dan buka puasa bersama, memperkuat komitmen bersama untuk membawa Kota Tangerang menjadi lebih baik dari hari kemarin.