BPBD Petakan 25 Kecamatan di Kabupaten Tangerang Rawan Kebakaran dan Kekeringan saat Musim Kemarau
WARTAXPRESS.com– Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tangerang memetakan sebanyak 25 kecamatan yang berpotensi mengalami kebakaran lahan, bangunan, hingga krisis air bersih selama musim kemarau tahun ini.
Kepala BPBD Kabupaten Tangerang Achmad Taufik mengatakan, wilayah-wilayah tersebut memiliki tingkat kerawanan tinggi, terutama kawasan industri, pergudangan, serta lokasi penampungan limbah yang tersebar di sejumlah kecamatan.
“Sekitar 25 kecamatan potensi kebakaran, baik lahan ilalang, gedung, maupun lapak limbah-limbah yang dikoordinir oleh pengusaha limbah,” kata Achmad Taufik dikutip dari Antara, Selasa, 14 Juli 2026.
Menurutnya, hasil pemetaan menunjukkan sejumlah wilayah seperti Kosambi, Teluknaga, Curug, Tigaraksa, dan Cikupa menjadi daerah yang perlu mendapat perhatian khusus karena memiliki banyak kawasan industri dan pergudangan yang rentan terbakar saat suhu udara meningkat.
Selain ancaman kebakaran, musim kemarau yang diperkirakan berlangsung lebih ekstrem pada tahun ini juga berpotensi memicu kekeringan di sejumlah wilayah Kabupaten Tangerang.
Fenomena tersebut bahkan disebut sebagai El Nino Godzilla yang diperkirakan berdampak pada kebutuhan air masyarakat maupun sektor pertanian.
Meski demikian, hingga saat ini BPBD baru menerima laporan resmi terkait kekurangan air bersih di Kecamatan Curug.
Untuk mengatasi kondisi tersebut, BPBD telah mendistribusikan bantuan air bersih kepada warga terdampak.
“Yang kelihatan saat ini kekurangan air bersih itu baru di Kecamatan Curug dan kita sudah bantu distribusi air bersih di wilayah itu. Kita selalu stay petugas-petugas kita dengan armadanya,” ujarnya.
BPBD memastikan penanganan dampak kekeringan tidak hanya dilakukan oleh satu instansi.
Penyaluran bantuan air bersih akan melibatkan kerja sama dengan Perumdam Tirta Kerta Raharja (TKR) serta Dinas Perumahan, Permukiman, dan Pemakaman (Perkim) Kabupaten Tangerang.
“Apabila ada kekeringan, kita bantu suplai air bersih. Kemudian koordinasi dengan PDAM dan Perkim. Jadi bukan BPBD sendiri, ada PDAM dan Perkim untuk suplai air apabila tidak bisa ditangani sendiri oleh BPBD,” kata dia.
Sebelumnya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan puncak musim kemarau di Indonesia akan berlangsung pada periode Juli hingga September 2026.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menyebut puncak kemarau pada Juli diprediksi terjadi di 83 zona musim atau sekitar 12,26 persen wilayah Indonesia.
Angka tersebut meningkat menjadi 369 zona musim pada Agustus dan 169 zona musim pada September.

Tinggalkan Balasan