BBM Pertamax Naik Jadi Rp16.250, CORE Ungkap Sisi Tak Terhindarkan di Balik Lonjakan 32%
WARTAXPRESS.com– Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) RON 92 Pertamax ke level Rp16.250 per liter pada Juni 2026 langsung menjadi sorotan publik.
Lonjakan sekitar 32% dari harga sebelumnya Rp12.300 per liter ini memunculkan beragam reaksi, mulai dari kekhawatiran konsumen hingga perdebatan soal kebijakan energi nasional.
Namun di balik kejutan tersebut, Center of Reform on Economics (CORE Indonesia) menilai bahwa kenaikan ini sebenarnya tidak sepenuhnya mengejutkan dari sisi fundamental ekonomi global.
Direktur Eksekutif CORE Indonesia, Mohammad Faisal, menjelaskan bahwa tekanan harga minyak dunia sejak awal tahun sudah memberi sinyal kuat adanya potensi kenaikan BBM non-subsidi di dalam negeri.
Situasi geopolitik, terutama konflik di kawasan Teluk Persia sejak akhir Februari 2026, disebut menjadi faktor dominan yang mendorong kenaikan harga minyak global.
Menurut Faisal, kondisi ini membuat biaya impor dan pengadaan BBM meningkat signifikan, sehingga penyesuaian harga di tingkat domestik menjadi hampir tidak terelakkan.
Meski secara fundamental sudah terprediksi, CORE menyoroti bahwa efek kejutan di masyarakat terjadi karena adanya penundaan penyesuaian harga dalam beberapa bulan terakhir.
Faisal menyebut, ketika harga tidak segera menyesuaikan dengan kondisi pasar global, maka penyesuaian yang dilakukan sekaligus akan terasa lebih berat bagi publik.
“Memang mungkin kenaikan ini sempat ditunda, sehingga lonjakannya cukup besar. Itu yang saya sayangkan. Kalau sejak awal dilakukan penyesuaian bertahap, dampaknya mungkin tidak akan menimbulkan shock sebesar ini,” ujar Faisal dalam keterangannya, Minggu (14/6/2026).
Pernyataan ini menegaskan bahwa isu utama bukan semata pada kenaikan harga, tetapi pada pola penyesuaian yang dianggap kurang gradual.
CORE Indonesia juga menyoroti posisi strategis Pertamina sebagai BUMN energi yang tidak hanya berorientasi pada keuntungan, tetapi juga memiliki fungsi pelayanan publik atau public service obligation (PSO).
Dalam periode sebelumnya, harga Pertamax disebut sempat ditahan di level Rp12.300 per liter meski harga keekonomian global bergerak naik. Kondisi ini, menurut analisis CORE, menciptakan selisih yang pada akhirnya harus dikoreksi ketika tekanan pasar semakin besar.
Faisal menilai kebijakan penyesuaian harga saat ini juga membawa dampak positif terhadap kesehatan arus kas perusahaan energi negara tersebut.
“Pada sisi lain, penyesuaian ini membuat kondisi keuangan lebih realistis. Pertamina tidak lagi harus menanggung selisih antara harga jual dan harga keekonomian secara terus-menerus,” jelasnya.
Meski secara teori merupakan penyesuaian berbasis pasar, kenaikan BBM tetap memiliki efek berantai ke berbagai sektor ekonomi. Biaya transportasi, distribusi barang, hingga harga kebutuhan pokok berpotensi ikut mengalami tekanan.
Sejumlah ekonom menilai, dalam jangka pendek masyarakat akan merasakan dampak pada daya beli, terutama kelompok kelas menengah bawah yang sangat sensitif terhadap perubahan harga energi.
Namun di sisi lain, sebagian analis melihat bahwa kepastian harga berbasis pasar dapat membantu mengurangi distorsi subsidi dan membuat fiskal negara lebih sehat dalam jangka panjang.
Fenomena kenaikan Pertamax kali ini menunjukkan dilema klasik dalam kebijakan energi: menjaga stabilitas harga di satu sisi, namun tetap mengikuti dinamika pasar global di sisi lain.
CORE Indonesia menilai bahwa kunci utama ke depan adalah komunikasi kebijakan yang lebih transparan serta mekanisme penyesuaian harga yang lebih bertahap agar tidak kembali menimbulkan kejutan besar di masyarakat.
Dengan situasi geopolitik global yang masih fluktuatif, harga energi diperkirakan tetap menjadi variabel paling sensitif dalam perekonomian Indonesia sepanjang 2026.

Tinggalkan Balasan