WartaXpress

Update Berita Tanpa Ketinggalan

Prabowo Wacanakan KPR 40 Tahun, Ekonom Nilai Bisa Bebani Pekerja Saat Pensiun

Redaksi Redaksi WartaXpress

WARTAXPRESS.com- Presiden Prabowo Subianto berencana menghadirkan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dengan tenor hingga 40 tahun. Pemerintah ingin memberi cicilan rumah yang lebih ringan bagi masyarakat.

Namun, sejumlah ekonom menilai tenor panjang dapat memunculkan risiko keuangan baru. Mereka menyoroti kemungkinan cicilan rumah masih berjalan ketika pekerja memasuki masa pensiun.

Ekonom Soroti Batas Usia Kerja

Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Tauhid Ahmad meminta pemerintah menyesuaikan tenor KPR dengan usia produktif masyarakat Indonesia.

Tauhid menjelaskan, pekerja swasta umumnya pensiun pada usia 55 tahun. Sementara Aparatur Sipil Negara (ASN) biasanya pensiun pada usia 60 tahun.

Menurutnya, masyarakat harus mengambil KPR sejak usia sangat muda agar cicilan selesai sebelum masa pensiun tiba.

“Kalau di sektor formal itu kan usia pensiun 55 tahun ya, swasta. Tapi kalau guru, dosen, PNS itu bisa 60 tahun,” ujar Tauhid dikutip dari detikcom, Jumat, 8 Mei 2026.

Ia menilai pekerja swasta akan kesulitan mengambil KPR 40 tahun jika usia pengajuan sudah terlalu tinggi.

Anak Muda Dinilai Sulit Ambil KPR 40 Tahun

Tauhid mengatakan banyak lulusan perguruan tinggi baru mulai bekerja pada usia 22 hingga 25 tahun. Sebagian dari mereka bahkan belum langsung memperoleh pekerjaan tetap.

Kondisi tersebut membuat banyak anak muda sulit memenuhi syarat pengajuan kredit rumah dengan tenor panjang.

Selain itu, bank biasanya melihat stabilitas penghasilan sebelum menyetujui pengajuan KPR.

“Dia harus semakin muda untuk mencicil. Kalau semakin berumur, sudah sulit dan menjadi tidak layak,” kata Tauhid.

Menurutnya, bank juga akan lebih berhati-hati memberikan pinjaman kepada calon debitur yang belum memiliki penghasilan stabil.

Risiko Cicilan Berlanjut saat Pensiun

Tauhid mengakui tenor panjang memang bisa membuat cicilan bulanan terasa lebih ringan. Namun, ia menilai risiko jangka panjang tetap perlu menjadi perhatian utama.

Jika debitur belum melunasi cicilan saat pensiun, kondisi ekonomi keluarga bisa terganggu. Beban pembayaran juga berpotensi berpindah kepada anak atau anggota keluarga lainnya.

Selain membayar cicilan rumah, debitur biasanya juga perlu membayar asuransi selama masa kredit berlangsung.

Tauhid menilai skema KPR tenor panjang lebih cocok bagi pengusaha atau pekerja yang memiliki penghasilan stabil dalam jangka panjang.

Prabowo Ingin Masyarakat Punya Rumah Sendiri

Sebelumnya, Prabowo menyampaikan rencana tenor KPR hingga 40 tahun saat menghadiri peringatan Hari Buruh.

Ia ingin buruh, petani, dan nelayan memiliki peluang lebih besar untuk membeli rumah sendiri.

Menurut Prabowo, banyak pekerja masih menghabiskan sebagian penghasilannya untuk membayar kontrakan rumah.

“Jadi yang tadi 30 persen untuk kontrak kita kurangi itu adalah untuk kau cicil rumahmu sendiri,” ujar Prabowo.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Tutup