Michael Bambang Hartono Wafat, Jejaknya di Bisnis hingga Olahraga Tak Terlupakan
TANGERANG, WARTAXPRESS.com– Dunia usaha Indonesia berduka. Salah satu tokoh konglomerasi nasional, Michael Bambang Hartono, dikabarkan meninggal dunia pada Kamis 19 Maret 2026 pukul 13.15 waktu Singapura.
Suasana haru terlihat di area kargo jenazah Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Sejumlah keluarga dan kerabat hadir untuk menyambut kedatangan jenazah yang diterbangkan dari Singapura menggunakan Singapore Airlines SQ956 dan tiba sekitar pukul 09.45 WIB.
Setelah tiba di Jakarta, jenazah rencananya akan disemayamkan di rumah duka Grand Heaven sebelum prosesi penghormatan terakhir dilakukan.
Michael Bambang Hartono dikenal sebagai salah satu sosok kunci di balik perkembangan besar Djarum. Bersama saudaranya, Robert Budi Hartono, ia melanjutkan bisnis yang dirintis sang ayah, Oei Wie Gwan, hingga tumbuh menjadi konglomerasi besar dengan pengaruh luas di berbagai sektor.
Di bawah kepemimpinannya, ekspansi bisnis tidak hanya berhenti di industri tembakau. Djarum berkembang ke berbagai sektor strategis, memperkuat posisinya sebagai salah satu kekuatan ekonomi utama di Indonesia.
Tak hanya berkiprah di dunia bisnis, Michael juga aktif dalam kegiatan sosial melalui Djarum Foundation. Program-programnya mencakup pendidikan, lingkungan, budaya, hingga olahraga, yang memberi dampak luas bagi masyarakat.
Kontribusinya di dunia olahraga, khususnya bulu tangkis, menjadi salah satu warisan penting. Lewat PB Djarum, ia turut membina atlet-atlet muda hingga mampu bersaing dan mengharumkan nama Indonesia di level internasional.
Di luar itu, Michael juga dikenal sebagai atlet bridge nasional. Ia pernah meraih medali perunggu di kejuaraan dunia serta tampil dalam ajang Asian Games 2018, menunjukkan dedikasinya yang tak terbatas pada dunia bisnis saja.
Kepergiannya meninggalkan duka mendalam. Bukan hanya bagi keluarga dan rekan bisnis, tetapi juga bagi perkembangan olahraga serta kegiatan sosial di Indonesia.
Sosoknya mungkin telah berpulang, tapi jejak yang ia tinggalkan terasa panjang—diam-diam membentuk banyak hal yang hari ini dianggap biasa. (Gara)

Tinggalkan Balasan