TANGERANG KOTA, WARTAXPRESS.com – Seorang perempuan berinisial S, 27, mengungkapkan pengalaman pahit yang dialaminya selama beberapa bulan terakhir. Ia mengaku menjadi korban dugaan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) serta eksploitasi yang diduga dilakukan melalui aplikasi MiChat.

Dalam keterangannya kepada media, S, menceritakan bahwa selama empat bulan terakhir ia mengalami tekanan psikologis berat, Pola tidurnya berantakan.

ia kerap terjaga di malam hari, dan pikirannya terus diliputi pertanyaan tentang makna hidup. Meski mendapat dukungan dari sejumlah pihak, korban mengaku kerap bertanya-tanya apakah dirinya harus selalu menangis atau menunjukkan histeria di depan publik untuk membuktikan penderitaannya.

“Di kepala saya seperti ada peperangan terus-menerus, mempertanyakan apakah saya masih waras atau tidak,” ungkapnya dengan suara bergetar. Jumat 30 Januari 2026.

Ia juga menyebut bahwa kini air mata terasa sulit keluar, namun rasa sakit itu justru menetap di dalam hati, bahkan memicu batuk yang datang setiap malam akibat menahan beban emosi.

S, menegaskan bahwa keberaniannya tampil di hadapan media bukan untuk mencari sensasi atau mengekspos hal-hal yang bersifat pribadi. Ia menyatakan langkah tersebut diambil semata-mata untuk memperjuangkan keadilan atas apa yang dialaminya.

“Saya berdiri di sini bukan untuk memamerkan apa pun, apalagi mencari kenikmatan. Saya hanya ingin keadilan,” tegasnya.

Ia juga menepis anggapan bahwa langkah hukum yang ditempuhnya bertujuan untuk mencari perhatian publik.

Korban berharap kepada pihak berwenang dapat menindaklanjuti laporan ini secara serius, sekaligus memberikan perlindungan dan pendampingan psikologis bagi korban.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak terlapor. Aparat penegak hukum menyatakan masih melakukan pendalaman terhadap laporan dan bukti yang disampaikan.