TANGSEL, WARTAXPRESS.com – Pemerintah Kota (Pemkot) Tangerang Selatan tengah mengkaji skema dana Kompensasi Dampak Negatif (KDN) bagi masyarakat di sekitar Tempat Pembuangan Sampah Akhir (TPSA) Cipeucang.

Wakil Wali Kota Tangsel, Pilar Saga Ichsan mengatakan, bahwa prioritas utama pemberian dana kompensasi dampak negatif ini adalah memastikan hak-hak masyarakat terdampak terpenuhi.

“Saat rapat kordinasi sekitar 1 bulan lalu bersama Walikota, Kepala OPD, di situ ada Sekda juga, di situ ada saya yang menyaksikan. Beliau sebenarnya sudah menyampaikan bahwa kompensasi untuk masyarakat terdampak itu dengan besaran 250 ribu per tahun itu terlalu sedikit. Beliau pengen untuk menjadi setiap bulan seperti itu,” kata pilar saat ditemui di kantor DPRD, Kamis (18/12/2025).

Meski demikian, Pilar belum mengetahui berapa besaran anggaran kompensasi yang diterima masyarakat disekitar TPA Cipeucang.

“Besarannya berapa? Ini yang TAPD sedang persiapkan nanti dengan dukungan DPRD, mudah-mudahan bisa kompensasi dampak negatif ya, untuk masyarakat yang tadi merupakan tuntutan dari masyarakat itu bisa terpenuhi,” ujarnya.

Ditanya soal warga yang ingin meminta bertemu dengan Wali Kota Benyamin Davnie, Pilar mengatakan, mungkin permintaan warga untuk bertemu Wali Kota adalah keputusan final untuk mencari solusi penanganan sampah di TPA Cipeucang.

“Itu sebagainya mungkin final ya, final. Nanti Pa wali akan menyampaikan kapan beliau bisa menerima teman-teman dari forum kepedulian serpong ini seperti itu,” pungkasnya.

Sebelumnya, Warga sekitar Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cipeucang, Kota Tangerang Selatan, mengeluhkan besaran dana kompensasi Rp250 ribu per tahun dari pemerintah daerah. Pasalnya, selain terbilang nominalnya kecil dan tidak sesuai, juga pencairannya terlalu lama.

Ketua RT setempat, Idik Tasdik mengatakan, uang kerohiman Rp250.000 tersrbut baru satu kali dibayarkan. Itu pun diberikan pada Desember 2024 silam, sedangkan untuk tahun ini belum cair.

“Mereka yang menentukan segitu. Ya, gimana, mana harus lewat rekening. Repot juga saya ngurusinnya, ngedata,” kata Idik. (Ded)