Indonesia Siap Masuki Era Taksi Terbang, 200 eVTOL Ditargetkan dalam 5 Tahun
WARTAXPRESS.com – Indonesia mulai bersiap memasuki era Advanced Air Mobility (AAM) dengan mengembangkan pesawat listrik lepas landas dan mendarat secara vertikal (electric Vertical Take-Off and Landing/eVTOL).
Langkah awal ditandai dengan penandatanganan Letter of Intent (LOI) untuk pengadaan 50 unit eVTOL Vela Alpha dalam ajang HEXIA. Jumlah tersebut menjadi bagian dari rencana pengadaan hingga 200 unit eVTOL dalam lima tahun ke depan.
CEO Whitesky Aviation Group, Denon Prawiraatmadja, mengatakan teknologi eVTOL berpeluang menjadi solusi transportasi udara baru, terutama untuk wilayah Indonesia yang memiliki tantangan geografis.
“Khususnya di wilayah seperti Kalimantan, Sulawesi, Papua, dan Sumatra, teknologi ini memiliki peluang besar untuk mendukung kebutuhan transportasi udara,” ujar Denon.
Menurutnya, eVTOL juga berpotensi menawarkan biaya operasional dan perawatan yang lebih rendah dibandingkan helikopter konvensional.
Dengan biaya operasional yang lebih efisien, harga layanan transportasi udara diharapkan dapat menjadi lebih terjangkau dan tidak hanya dinikmati segmen tertentu.
“Konsepnya adalah menghadirkan transportasi udara dengan biaya operasional yang lebih rendah sehingga nantinya harga layanan dapat lebih terjangkau. Kami melihat teknologi ini juga dapat mendukung upaya dekarbonisasi transportasi udara,” katanya
Meski demikian, pengoperasian eVTOL di Indonesia tidak bisa dilakukan begitu saja. Pesawat harus melewati berbagai tahapan pengujian dan memenuhi persyaratan keselamatan yang ditetapkan Kementerian Perhubungan.
Setelah proses sandbox trial atau uji coba dalam lingkungan terbatas dinyatakan memenuhi persyaratan, proses dapat dilanjutkan ke tahap pengiriman hingga pengoperasian.
“Keselamatan penerbangan merupakan hal yang paling utama. Karena itu, seluruh persyaratan pengujian harus dipenuhi oleh manufaktur sebelum masuk ke tahap berikutnya,” ujar Denon.
Direktur Direktorat Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara (DKPPU) Kementerian Perhubungan, Sokhib Al Rokhman, mengatakan pemerintah siap menyambut perkembangan teknologi AAM di Indonesia.
Menurut Sokhib, pemerintah tidak bekerja sendiri dalam menyiapkan ekosistem transportasi udara generasi baru tersebut. Kementerian Perhubungan juga berkoordinasi dengan sejumlah kementerian dan lembaga terkait.
Indonesia sebelumnya telah memiliki pengalaman dalam mengatur penggunaan drone. Saat ini tercatat sekitar 10 ribu drone dengan berat di bawah 25 kilogram telah terdaftar di Kementerian Perhubungan.
Dari sisi regulasi kelaikudaraan, Indonesia juga telah memiliki Peraturan Keselamatan Penerbangan Sipil (PKPS) Nomor 21 yang disahkan pada 2023.
Regulasi mengenai penggunaan ruang udara dan registrasi pesawat juga telah tersedia. Sementara aturan mengenai lisensi pilot jarak jauh atau Remote Pilot License (RPL) masih dalam proses revisi dan diharapkan segera diterbitkan.
“Fondasi regulasinya sudah kita siapkan. Untuk pengembangan teknologi baru di bidang transportasi, kita memang harus mulai meletakkan pondasinya dari sekarang,” kata Sokhib.
Ia menjelaskan, pesawat yang masih berada dalam tahap eksperimental dapat memperoleh izin penerbangan khusus setelah memenuhi sejumlah persyaratan keselamatan.
Namun, untuk masuk ke tahap operasi komersial, proses yang harus dilalui jauh lebih panjang.
Tahapannya mencakup pengujian jam terbang, static test, dynamic test, serta berbagai pengujian lain untuk memastikan pesawat memenuhi standar keselamatan penerbangan.
Sementara itu, Direktur Program dan Operasional PT Vela Prima Nusantara, Silverius Kevin Phang, mengatakan Vela Alpha dikembangkan dalam dua konfigurasi teknologi, yakni eVTOL bertenaga listrik penuh dan hybrid VTOL.
Keduanya memiliki kemampuan yang relatif sama, tetapi berbeda dalam hal jarak tempuh.
Versi listrik penuh atau eVTOL mampu menempuh jarak hingga sekitar 150 kilometer. Sementara versi hybrid diklaim dapat mencapai sekitar 500 kilometer.
Pesawat tersebut dirancang untuk mengangkut hingga enam penumpang.
Konfigurasi kabinnya dapat disesuaikan untuk kelas ekonomi maupun bisnis, dengan konfigurasi empat kursi dan ruang bagasi.
Tak hanya untuk mengangkut penumpang, Vela Alpha juga diproyeksikan untuk berbagai kebutuhan lain, seperti logistik dan kargo, evakuasi medis (medical evacuation/medevac), hingga pariwisata.
Kevin menilai salah satu keunggulan utama AAM adalah biaya operasional yang lebih kompetitif dibandingkan helikopter konvensional.
Teknologi eVTOL juga tidak menghasilkan emisi karbon langsung saat beroperasi. Meski begitu, Kevin menegaskan teknologi tersebut belum dapat disebut sepenuhnya mencapai kondisi net zero.
Untuk versi hybrid, pesawat pada tahap awal masih menggunakan avtur. Ke depan, teknologi tersebut dirancang agar dapat menggunakan sustainable aviation fuel (SAF) sebagai bagian dari upaya mengurangi emisi penerbangan.
Pengembangan Vela Alpha dilakukan di Indonesia. Pesawat dirancang, dikembangkan, diuji, hingga dirakit di fasilitas produksi yang berada di Batujajar, Jawa Barat.
Meski sejumlah komponen masih didatangkan dari luar negeri, proses manufaktur dan assembly dilakukan di dalam negeri dengan melibatkan tenaga kerja nasional.
Saat ini, pengembang baru memiliki satu prototipe yang disebut sebagai desain akhir untuk memasuki proses sertifikasi.
Setelah ajang HEXIA, tim akan kembali ke Bandung untuk mempersiapkan tahapan uji terbang. Demonstrasi kepada publik ditargetkan dapat dilakukan pada tahun depan.
Pengembang juga menargetkan pembuatan tiga prototipe tambahan untuk mendukung proses sertifikasi. Prototipe tersebut terdiri dari dua unit eVTOL dan satu unit hybrid VTOL.
Whitesky Aviation Group melihat teknologi AAM memiliki prospek besar untuk menjawab kebutuhan konektivitas antardaerah di Indonesia yang merupakan negara kepulauan.
Dengan biaya operasional yang diharapkan lebih rendah serta perkembangan teknologi yang semakin pesat, eVTOL diproyeksikan tidak hanya menjadi moda transportasi untuk segmen premium.
Ke depan, teknologi ini diharapkan dapat membuka akses transportasi udara yang lebih luas, termasuk untuk kebutuhan konektivitas wilayah yang selama ini memiliki keterbatasan akses transportasi.
Jika seluruh proses pengujian, sertifikasi, dan regulasi dapat dilalui sesuai ketentuan, era “taksi terbang” listrik di Indonesia pun semakin mendekati kenyataan.

Tinggalkan Balasan