Gen Z Jadi Kelompok Paling Aktif Membaca, Pola Literasi Beralih ke Ruang Digital
WARTAXPRESS.com – Anggota MPR RI Atalia Praratya mengungkapkan bahwa Generasi Z (Gen Z) justru menjadi kelompok masyarakat yang paling aktif membaca dibandingkan generasi lainnya, meskipun aktivitas tersebut kini banyak dilakukan melalui platform digital.
“Kalau kita lihat data, justru Gen Z yang paling aktif membaca. Hanya bentuk dan medianya yang berubah, mulai dari artikel digital, buku elektronik hingga konten edukatif di media sosial,” kata Atalia dalam seminar bertajuk “Perpustakaan Tanpa Batas: Gen Z Suka Baca Ga Sih?” yang digelar di Universitas Widyatama, Bandung, Selasa 23 Juni 2026.
Menurut Atalia, temuan tersebut merujuk pada hasil survei Jakpat yang menunjukkan tingkat aktivitas membaca Gen Z mencapai sekitar 26 persen atau lebih tinggi dibandingkan generasi Milenial maupun Generasi X.
Ia menilai data tersebut sekaligus mematahkan anggapan bahwa generasi muda saat ini hanya tertarik pada konten visual singkat dan kurang memiliki minat membaca.
Atalia menjelaskan bahwa perubahan yang terjadi bukan pada minat membaca, melainkan pada cara generasi muda mengakses informasi. Perkembangan teknologi telah mendorong perpindahan aktivitas literasi dari media cetak ke berbagai platform digital yang lebih mudah dijangkau.
Dalam kesempatan yang sama, CEO Narabahasa Ivan Lanin mengatakan kebiasaan membaca di kalangan Gen Z mengalami evolusi seiring perkembangan teknologi informasi.
“Generasi ini tidak menjauh dari membaca. Mereka hanya memilih format yang berbeda. Bahkan banyak yang membaca setiap hari tanpa merasa sedang belajar,” ujarnya.
Menurut Ivan, aktivitas membaca kini tidak lagi terbatas pada buku atau materi akademik, tetapi juga mencakup berbagai bentuk informasi digital yang dikonsumsi masyarakat sehari-hari.
Sementara itu, Kepala Program Studi Perpustakaan dan Sains Informasi Universitas Widyatama Haria Saputry Wahyuni menilai literasi memiliki keterkaitan dengan kesehatan mental generasi muda.
Ia mengatakan membaca dapat menjadi salah satu cara untuk mengurangi stres, meningkatkan konsentrasi, serta memberikan ruang refleksi di tengah tingginya arus informasi digital.
“Literasi bukan hanya soal pengetahuan, tetapi juga berkaitan dengan ketenangan dan kualitas hidup. Membaca dapat membantu individu mengelola tekanan yang dihadapi sehari-hari,” katanya.
Pada forum tersebut, Perpustakaan MPR RI juga menegaskan komitmennya untuk memperkuat layanan literasi berbasis digital. Kepala Bagian Pemberitaan dan Hubungan Antarlembaga Sekretariat Jenderal MPR RI Rosando mengatakan perpustakaan saat ini diarahkan menjadi pusat literasi konstitusi yang dapat diakses masyarakat secara lebih luas melalui digitalisasi.
“Perpustakaan tidak lagi hanya berfungsi sebagai tempat penyimpanan arsip, tetapi juga menjadi pusat literasi konstitusi yang terbuka dan mudah diakses publik,” ujarnya.
Sejumlah peserta seminar menilai pendekatan literasi perlu disesuaikan dengan karakteristik generasi muda. Selain menyediakan koleksi bacaan, perpustakaan juga dinilai perlu menghadirkan ruang diskusi, kolaborasi, dan produksi konten kreatif agar tetap relevan dengan kebutuhan Gen Z
Diskusi tersebut menyimpulkan bahwa literasi pada era digital tidak lagi ditentukan oleh bentuk media yang digunakan, melainkan oleh kemampuan masyarakat dalam mengakses, memahami, dan memanfaatkan informasi secara efektif.
Dengan dukungan transformasi perpustakaan, digitalisasi konten, dan penguatan komunitas literasi, Indonesia dinilai memiliki peluang untuk meningkatkan budaya baca masyarakat di tengah perkembangan teknologi yang semakin pesat.

Tinggalkan Balasan