AirNav RI-Malaysia Benahi Rute Penerbangan, Implementasi Dimulai Januari 2027
WARTAXPRESS.com – AirNav Indonesia dan otoritas penerbangan Malaysia sepakat membenahi koordinasi navigasi penerbangan lintas negara. Sejumlah agenda disiapkan, mulai dari pertukaran data penerbangan, penataan ruang udara, hingga perubahan rute pesawat yang ditargetkan mulai diterapkan pada 2027.
Kesepakatan tersebut dibahas dalam pertemuan ke-13 Air Navigation Services Consultative Committee (ACC/13) Indonesia-Malaysia di Bandung pada 21-22 Oktober 2026.
Direktur Utama AirNav Indonesia Capt. Avirianto Suratno mengatakan koordinasi kedua negara penting untuk memastikan pelayanan navigasi tetap aman dan lancar, terutama ketika pesawat melintasi batas wilayah pelayanan udara Indonesia dan Malaysia.
Hal itu disampaikan Avirianto saat menerima kunjungan delegasi Civil Aviation Authority of Malaysia (CAAM) di Kantor Pusat AirNav Indonesia, Tangerang, Jumat (23/10/2026).
Dalam kunjungan tersebut, delegasi CAAM meninjau fasilitas Indonesia Network Management Center (INMC) dan New Jakarta Air Traffic Services Centre (New JATSC). Mereka juga berdiskusi dengan personel AirNav Indonesia terkait pelaksanaan pelayanan navigasi penerbangan.
Salah satu agenda penting dalam kerja sama ini adalah pengujian sistem Air Traffic Services Interfacility Data Communication (AIDC). Sistem tersebut digunakan untuk bertukar data penerbangan antarpusat pengendalian lalu lintas udara.
Direktur Operasi AirNav Indonesia Setio Anggoro mengungkapkan pengujian dilakukan pada jalur komunikasi antara Ujung Pandang, Indonesia, dan Kota Kinabalu, Malaysia.
Hasilnya, pengiriman pesan dari Ujung Pandang menuju Kota Kinabalu mencatat tingkat keberhasilan 100 persen. Sementara itu, pengiriman data dari Kota Kinabalu menuju Ujung Pandang mencapai 97 persen.
Capaian tersebut menjadi dasar bagi kedua negara untuk melanjutkan pembahasan parameter teknis dan mempersiapkan pengujian operasional.
Implementasi penuh sistem AIDC ditargetkan pada Februari 2027, dengan tetap mempertimbangkan kesepakatan kedua negara.
Pertukaran data ini diharapkan membuat proses peralihan pelayanan navigasi di wilayah perbatasan berlangsung lebih terkoordinasi, sehingga potensi kesalahan komunikasi dapat diminimalkan.
Selain sistem pertukaran data, Indonesia dan Malaysia menyepakati usulan penataan ruang udara di wilayah Balikpapan-Tarakan.
Penerapan penataan tersebut ditargetkan mulai 21 Januari 2027. Sebelum diterapkan, kedua pihak akan menyiapkan mekanisme koordinasi dan pengaturan pelayanan yang melibatkan pihak-pihak terkait.
Kedua negara juga membahas rencana perubahan rute penerbangan A576 dan N563 yang akan diajukan kepada Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO).
Pengembangan rute penerbangan langsung turut menjadi perhatian. Namun, rencana tersebut masih membutuhkan koordinasi teknis serta persetujuan lebih lanjut dari pihak terkait.
Di wilayah perbatasan Tarakan-Tawau, AirNav Indonesia dan CAAM juga membahas peningkatan prosedur koordinasi serta penyelarasan publikasi informasi penerbangan.
Langkah ini ditujukan untuk meminimalkan potensi bahaya atau hazard, khususnya saat pelayanan navigasi pesawat dialihkan dari satu wilayah tanggung jawab ke wilayah lainnya.
Kerja sama kedua negara juga mencakup penguatan aspek keselamatan penerbangan.
Indonesia dan Malaysia sepakat menunjuk penghubung keselamatan pada masing-masing wilayah informasi penerbangan. Kedua pihak juga akan mencocokkan data kejadian di wilayah perbatasan pelayanan navigasi.
Rekonsiliasi data tersebut diharapkan dapat membantu mengidentifikasi titik-titik yang membutuhkan prioritas perbaikan serta menentukan langkah tindak lanjut untuk meningkatkan keselamatan penerbangan.
Direktur Keselamatan, Keamanan dan Standardisasi AirNav Indonesia Capt. Nurcahyo Utomo mengatakan kedua negara juga menyiapkan kerangka kontingensi pelayanan lalu lintas penerbangan.
Kerangka ini diperlukan untuk menjaga kesinambungan pelayanan ketika terjadi gangguan operasional, termasuk akibat keadaan kahar atau force majeure.
Sebagai tindak lanjut, Indonesia dan Malaysia merencanakan latihan bersama berbasis skenario pada 2027 sebelum pertemuan ACC berikutnya.
AirNav Indonesia juga akan melanjutkan dan meningkatkan program pertukaran personel operasional dengan CAAM. Program tersebut diharapkan memperkuat pemahaman personel terhadap prosedur dan praktik pelayanan navigasi yang diterapkan di masing-masing negara.
Nurcahyo menegaskan seluruh hasil pembahasan bilateral akan ditindaklanjuti melalui koordinasi teknis dengan otoritas Malaysia, dengan tetap memperhatikan persyaratan operasional dan standar keselamatan penerbangan.
Melalui rangkaian kerja sama ini, AirNav Indonesia dan CAAM menargetkan koordinasi navigasi lintas negara yang semakin kuat untuk mendukung penerbangan yang aman, tertib, dan efisien di wilayah Indonesia dan Malaysia.

Tinggalkan Balasan