Kemarau Ekstrem Ancam 43 Hektare Sawah di Kabupaten Tangerang Gagal Panen

F-H F-H
Achmad Taufik Kepala BPBD Kabupaten Tangerang

WARTAXPRESS.com- Sebanyak 43 hektare tanaman padi di Kabupaten Tangerang terancam mengalami gagal panen atau puso akibat kemarau ekstrem yang diperkirakan berlangsung hingga September 2026.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tangerang Achmad Taufik mengatakan, potensi gagal panen tersebut tersebar di 12 kecamatan dan 24 desa.

“Berdasarkan informasi dari Dinas Pertanian potensi puso atau gagal panen itu sekitar 43 hektare yang tersebar di 12 kecamatan dan 24 desa,” kata Taufik, Rabu, 6 Agustus 2026 dikutip dari Antara.

Ia menjelaskan, ancaman tersebut dipicu kekeringan yang menyebabkan pasokan air irigasi menurun sehingga berdampak pada lahan pertanian.

“Jadi memang berdasarkan prediksi BMKG bahwa musim kemarau ini akan melanda cukup lama. Dan potensi cuaca yang ekstrem dengan curah panas tinggi dengan dirasakan sejak Mei hingga September 2026,” ujarnya.

Selain mengancam sektor pertanian, kemarau juga menyebabkan krisis air bersih di sejumlah wilayah Kabupaten Tangerang.

Menurut Taufik, hingga saat ini sedikitnya 13 kecamatan dengan 64 desa dan kelurahan terdampak kekeringan.

“Untuk jumlah KK itu ada 1.665 kepala keluarga (KK) ikut terdampak akibat krisis air bersih,” tuturnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Sarana Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kabupaten Tangerang Sahri menambahkan, Pemkab Tangerang telah menyiapkan 8,9 ton benih sebagai langkah mengantisipasi kerugian petani apabila terjadi gagal panen.

“Langkah-langkah yang dilakukan Pemda sendiri yaitu, menyiapkan 8,9 ton benih pengganti,” katanya.

Selain menyiapkan benih, DPKP juga melakukan berbagai langkah pencegahan untuk menghadapi dampak musim kemarau terhadap lahan pertanian.

“Kami telah memetakan wilayah rawan kekeringan, memanfaatkan data BMKG untuk jadwal tanam, melakukan sosialisasi, menyiagakan brigade alsintan (pompa air), membersihkan saluran irigasi, serta menyiapkan bantuan benih jika terjadi gagal panen (puso),” pungkas Sahri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Tutup