BRIN Prediksi Super El Nino 2026 Capai Puncak Agustus, Kekeringan Bakal Lebih Parah

F-H F-H
Surutnya aliran Sungai Cisadane

WARTAXPRESS.com- Fenomena El Nino 2026 diperkirakan terus menguat dan berpotensi mencapai kategori Super El Nino pada Agustus mendatang. Kondisi tersebut diprediksi membawa dampak yang lebih besar dibandingkan El Nino 2023, termasuk meningkatkan risiko kekeringan di berbagai wilayah Indonesia.

Pakar klimatologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Prof. Erma Yulihastin mengatakan, perkembangan El Nino tahun ini berlangsung jauh lebih cepat.

Melalui unggahan di akun X pribadinya pada 24 Juli 2026, ia menyebut lembaga pemantau cuaca ekstrem di Eropa juga mulai menyoroti potensi terjadinya Super El Nino beserta dampaknya terhadap sirkulasi atmosfer global.

“Akhirnya, lembaga resmi cuaca ekstrem Eropa telah menyebut Super El Nino dan konsekuensi perubahan sirkulasi atmosfer yang dipicunya,” tulis Erma dikutip dari Detik, Selasa 28 Juli 2026.

Berdasarkan pembaruan data hingga 19 Juli 2026, indeks El Nino telah mencapai 1,74 derajat Celsius.

Angka tersebut menandakan El Nino sudah berada pada kategori kuat dan bahkan melampaui puncak El Nino yang terjadi pada 2023.

“Sesuai prediksi, intensitas El Nino terus meningkat dan kini telah masuk kategori El Nino kuat (1,74°C), bahkan ini belum mencapai puncaknya. Nilai ini lebih tinggi dibandingkan puncak El Nino 2023. Sudah dapat dipastikan El Nino 2026 akan jauh lebih kuat dibandingkan 2023, begitu pula dampak yang ditimbulkannya,” jelasnya.

Menurut Erma, menguatnya El Nino turut memicu peningkatan aktivitas badai tropis di Samudra Pasifik.

Dari pantauan satelit Himawari, saat ini terdapat lima sistem badai di kawasan tersebut dan dua di antaranya telah berkembang menjadi siklon tropis.

Ia menjelaskan, badai-badai tersebut berpotensi memicu banjir di kawasan Amerika, Filipina, hingga negara-negara di lintang menengah belahan bumi utara. Sebaliknya, Indonesia diperkirakan mengalami kondisi yang berlawanan.

“Indonesia akan menjadi wilayah bayangan hujan (rain shadow) dari Samudra Pasifik, sehingga akan dilanda kekeringan yang semakin meluas dari hari ke hari,” tulisnya.

Erma menambahkan, hasil pemantauan dari Bureau of Meteorology (BOM) Australia dan Japan Agency for Marine-Earth Science and Technology (JAMSTEC) menunjukkan El Nino diproyeksikan terus menguat hingga memasuki kategori Super El Nino pada Agustus 2026.

Ia juga mengungkapkan, pemanasan yang terjadi di bawah permukaan laut jauh lebih besar dibandingkan yang terlihat di permukaan. Menurutnya, suhu di lapisan bawah laut bahkan mencapai sekitar 9 derajat Celsius.

“Pemanasan di permukaan Samudra Pasifik tidak ada apa-apanya dibandingkan pemanasan di lapisan bawah permukaan laut yang dua hingga tiga kali lebih panas. Suhu tertingginya bahkan mencapai 9°C,” rincinya.

Panas yang tersimpan di bawah laut tersebut secara bertahap akan naik ke permukaan, lalu dilepaskan ke atmosfer sehingga memperkuat fenomena El Nino.

“Karena itulah Super El Nino dipastikan akan terjadi dan suhu permukaan laut akan terus meningkat secara bertahap,” ujarnya.

Erma juga menyebut karakter El Nino 2026 berkembang sangat cepat atau rapid developing. Sejak Februari 2026, intensitas El Nino disebut meningkat sekitar 0,2 derajat Celsius setiap pekan tanpa mengalami pelemahan maupun stagnasi seperti yang terjadi pada 2023.

“Kenaikannya terjadi pada skala mingguan sekitar 0,2°C sejak Februari 2026 hingga sekarang. Tidak ada fluktuasi sama sekali seperti pada 2023 yang sempat melemah atau stagnan. Pertumbuhan yang agresif ini menunjukkan ‘keganasan’ El Nino 2026,” sebut Erma.

Ia menambahkan, area pemanasan laut saat ini juga lebih luas dibandingkan peristiwa El Nino besar pada 1997.

Meski demikian, Erma menyebut prediksi iklim masih dapat berubah mengikuti perkembangan data atmosfer dan lautan.

Namun, menurutnya, tren yang ada saat ini menunjukkan potensi Super El Nino 2026 perlu diantisipasi secara serius karena berpotensi memicu cuaca ekstrem, kekeringan berkepanjangan, serta berdampak terhadap sektor pertanian dan ketahanan pangan di Indonesia.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Tutup