WartaXpress

Update Berita Tanpa Ketinggalan

Rumah Miliaran di BSD dan Serpong Mulai Sepi Peminat, Agen Properti Keluhkan Penjualan Turun Tajam

Redaksi Redaksi WartaXpress
Ilustrasi Rumah Dijual. Doc. Istimewa

WARTAXPRESS.com- Pasar rumah di kawasan Tangerang Raya sedang tidak baik-baik saja. Di sejumlah kawasan seperti BSD dan Serpong Tangerang Selatan (Tangsel), penjualan rumah rupanya melambat cukup tajam sejak awal 2026.

Kondisi ini terutama menghantam rumah-rumah kelas menengah dengan harga Rp1 miliar hingga Rp4 miliar yang sebelumnya cukup diminati masyarakat.

Ketua DPD Asosiasi Real Estate Broker Indonesia Banten Vemby mengatakan, penurunan transaksi dirasakan hampir merata oleh para agen properti di wilayah Tangerang Raya.

Menurutnya, situasi ekonomi membuat masyarakat lebih berhati-hati mengeluarkan uang untuk membeli rumah.

Penjualan Rumah Tangerang Merosot Dipicu Gelombang PHK

Gelombang PHK, kenaikan harga kebutuhan, hingga ketidakpastian global ikut memengaruhi keputusan calon pembeli.

“Ekonomi juga lagi nggak bagus, banyak PHK atau pengurangan pekerja. Dari luar juga ada efek perang, harga minyak naik, inflasi naik, jadi orang lebih jaga-jaga dan menunda pembelian,” ujarnya dilansir CNBC Indonesia, Senin, 11 Mei 2026.

Ia menyebut kondisi pasar saat ini jauh berbeda dibanding tahun lalu. Banyak agen properti mengaku transaksi penjualan turun cukup dalam.

“Kalau ngobrol sama teman-teman agen juga pada ngeluh memang turun dibanding tahun kemarin,” katanya.

Lanjutnya, segmen yang paling terdampak berada di kawasan hunian menengah atas seperti BSD, Serpong, hingga wilayah sekitar Tangerang Selatan.

Kata dia, rumah dengan harga Rp2 miliar sampai Rp3 miliar semakin sulit terjual.

Menurut Vemby, banyak calon pembeli akhirnya menurunkan target harga rumah yang dicari demi menyesuaikan kondisi keuangannya.

“Yang tadinya cari rumah Rp 2-3 miliar jadi turun ke Rp 1 sampai Rp 1,5 miliar,” ujarnya.

Pembeli Rumah Makin Selektif

Perubahan perilaku konsumen juga mulai terasa. Jika sebelumnya pasar banyak digerakkan investor, kini mayoritas pembeli berasal dari kalangan end user atau pengguna langsung yang membeli rumah untuk ditempati sendiri.

Akibatnya, proses transaksi menjadi lebih panjang karena pembeli cenderung lebih detail dalam membandingkan harga, kondisi bangunan, hingga lingkungan sekitar.

“Sekarang lebih banyak end user. Mereka lebih picky, lebih detail lihat lingkungan, harga, compare banyak properti lain. Jadi decision making-nya lebih panjang,” kata dia.

Di tengah kondisi pasar yang melambat, banyak pemilik rumah mulai memasang label “jual cepat” untuk menarik pembeli.

Fenomena itu mulai mudah ditemui di sejumlah kawasan permukiman Tangerang Selatan.

Salah seorang pemilik rumah di Tangsel, Sony, mengaku banyak calon pembeli mencoba menawar rumah dengan harga jauh lebih rendah dari harga pasar.

“Banyak calon pembeli yang menawarkan harga murah, tapi kita gak langsung kasih, kalau harganya masuk bisa jadi dilepas,” ujarnya.

Sebelumnya, hasil Survei Harga Properti Residensial (SHPR) Bank Indonesia mencatat penjualan properti residensial di pasar primer pada triwulan I-2026 turun 25,67 persen secara tahunan.

Angka itu berbalik dari kondisi triwulan sebelumnya yang masih tumbuh 7,83 persen.

Sementara pertumbuhan harga rumah secara nasional juga tercatat hanya naik tipis sebesar 0,62 persen secara tahunan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Tutup