WartaXpress

Update Berita Tanpa Ketinggalan

Jadi Kebiasaan Tahunan, HRD Ungkap Fenomena Banyak Karyawan Resign Usai THR Lebaran   

WARTAXPRESS.com- Gelombang pengunduran diri karyawan setelah Lebaran kembali menjadi sorotan. Fenomena ini hampir selalu muncul setiap tahun, terutama setelah pekerja menerima Tunjangan Hari Raya (THR) dan memiliki kondisi keuangan yang dinilai lebih siap untuk mengambil keputusan pindah kerja.

Di kalangan pekerja swasta, momen setelah Idulfitri kerap dianggap sebagai waktu yang “aman” untuk mengajukan resign.

Tidak sedikit karyawan yang menahan keputusan keluar lebih dulu hingga THR cair, lalu memilih mengakhiri masa kerja usai libur Lebaran.

Praktisi sekaligus Konsultan Sumber Daya Manusia (SDM) Audi Lumbantoruan menilai, pola ini memang sudah menjadi semacam siklus tahunan di dunia kerja.

Menurut dia, banyak pekerja sebenarnya sudah lama ingin mencari tempat kerja baru, tetapi menunggu momentum yang dianggap paling menguntungkan.

Ia menyebut, keputusan resign setelah THR umumnya bukan hal yang mendadak. Dalam banyak kasus, niat untuk keluar sudah muncul jauh sebelum Lebaran, hanya saja ditahan agar hak THR tetap diterima terlebih dahulu.

“Ini mindset yang sebenarnya keliru sih, makin besar orang yang ingin cari peluang perusahaan di luar sana lebih baik dari apa yang saya dapat sekarang. Walaupun belum tentu bener, ya. Ini kan bicara mindset,” kata Audi dikutip dari detikfinance, Selasa, 17 Maret 2026.

Dikatakan Audi, perusahaan pada umumnya juga tidak benar-benar kaget menghadapi kondisi tersebut.

Sebab, tanda-tanda karyawan yang berencana hengkang biasanya mulai terlihat dari perubahan sikap maupun performa kerja sehari-hari.

Ia menjelaskan, gejala yang paling mudah terbaca biasanya muncul dari cara berkomunikasi, kecepatan merespons pekerjaan, hingga menurunnya fokus terhadap tanggung jawab yang sebelumnya dijalankan secara normal.

“Kelihatan dalam sisi respons, sisi komunikasi, gitu ya, atasan langsung biasanya juga tahu lah kalau dia sudah mulai nggak fokus gitu ya. Secara perilaku sudah ketahuan siapa yang mau resign,” jelasnya.

Audi menambahkan, khusus di perusahaan besar, potensi resign massal usai Lebaran biasanya sudah diantisipasi sejak proses evaluasi kinerja berlangsung.

Atasan langsung umumnya telah memberi masukan kepada HR terkait siapa saja karyawan yang diperkirakan tidak akan bertahan lama.

“Apalagi perusahaan-perusahaan besar yang biasanya sudah selesai melakukan penilaian kinerjakan dan kemudian mereka sudah dapat masukan dari atasan langsung ‘ini ada orang-orang yang kemungkinannya ingin keluar nih’, gitu kan. Ya sudah, itu mah bukan hal yang aneh lagi sih,” terang Audi.

Senada, Ketua Ikatan SDM Profesional Indonesia (ISPI) Ivan Taufiza mengatakan, kecenderungan karyawan yang akan resign setelah menerima THR sebetulnya bisa dibaca lebih awal jika perusahaan jeli memperhatikan pola perilaku pegawainya.

Menurut Ivan, pekerja yang sudah berniat keluar biasanya mulai kehilangan ketertarikan terhadap pekerjaan jangka panjang.

Para karyawan cenderung tidak lagi antusias mengambil tantangan baru dan lebih memilih menjalankan tugas sekadarnya.

“Sebenarnya posisi-posisi atau orang-orang yang akan potensi keluar setelah THR itu kan sebenarnya kelihatan, pola-polanya kelihatan, gejala-gejalanya kelihatan, harusnya disiapkan lebih awal. Jadi itu dari sisi perusahaan harusnya ada antisipasi gitu kan,” ujar Ivan.

Lanjutnya, perubahan itu bisa terlihat dari kebiasaan kerja yang mulai bergeser. Misalnya, pegawai yang biasanya aktif menerima tugas luar kota atau proyek tambahan, perlahan mulai menolak atau menghindarinya.

“Contoh, kalau misalnya pekerjaan biasanya tugas ke luar kota atau perjalanan dinas, nah dia sudah mulai males tuh, dia kan sudah mulai menghindari ya kan. Kalau dia misalnya penugasan ke luar kota dia sudah maunya di point of hire-nya, misalnya dia Jakarta penugasan Semarang gitu kan, dia sudah mulai males tuh ke Semarang, ada di Jakarta saja misalnya,” ucapnya.

Selain itu, penurunan kinerja juga disebut menjadi sinyal paling nyata. Karyawan yang sebelumnya bekerja agresif dan produktif, kata Ivan, biasanya mulai menunjukkan performa yang lebih lambat, kontribusi menurun, dan komunikasi yang tidak lagi seintens sebelumnya.

“Jadi kinerja juga sama biasanya kalau orang lari 100 km per jam gitu nih sekarang paling cuma 60-70 ya kan, pasti kelihatan sih secara umum gitu. Jadi perilaku, kontribusi itu juga sudah pasti mulai kelihatan juga, komunikasi-komunikasinya juga kan beda dengan kalau orang sudah mau resign secara umum,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Tutup