Tembus Selat Hormuz, Tanker Pertamina Gamsunoro Selesaikan Pelayaran Berisiko Tinggi

Dok.istemewa

WARTAXPRESS.com – Kapal tanker Gamsunoro milik PT Pertamina International Shipping (PIS) berhasil melintasi Selat Hormuz, jalur pelayaran energi paling strategis di dunia, setelah menjalani perjalanan selama 16 jam di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.

Keberhasilan pelayaran tersebut menjadi bukti kesiapan operasional dan kemampuan manajemen risiko perusahaan dalam menghadapi dinamika keamanan global yang memengaruhi rantai pasok energi internasional.

Corporate Secretary PIS Vega mengatakan perjalanan kapal tidak sekadar aktivitas logistik biasa, melainkan operasi yang memerlukan pengawasan dan mitigasi risiko secara ketat mengingat tingginya sensitivitas kawasan Selat Hormuz.

“Setiap jam di rute tersebut memiliki tingkat sensitivitas tinggi. Kami tidak hanya berbicara tentang perjalanan kapal, tetapi juga tentang manajemen risiko di wilayah yang sangat dinamis,” ujar Vega dalam keterangannya.

Kapal Gamsunoro sebelumnya berada di kawasan Teluk Arab sejak awal Maret 2026 dan sempat menunggu perkembangan situasi keamanan regional sebelum memperoleh persetujuan untuk melanjutkan pelayaran.

Setelah melalui pemantauan intensif dan koordinasi antara manajemen PIS, otoritas terkait, serta tim keamanan maritim, kapal akhirnya dinyatakan aman untuk melintas dengan pengawasan penuh.

Pelayaran dimulai pada Rabu (24/6) pukul 01.06 waktu Dubai. Sejak keberangkatan, pusat kendali operasional PIS melakukan pemantauan posisi kapal secara berkelanjutan sambil memperbarui analisis situasi keamanan regional guna mengantisipasi potensi risiko yang dapat muncul sewaktu-waktu.

Selama proses pelayaran, sejumlah faktor seperti kondisi cuaca, kepadatan lalu lintas kapal internasional, hingga potensi gangguan keamanan menjadi fokus evaluasi tim operasional.

Selat Hormuz sendiri merupakan salah satu jalur distribusi energi terpenting di dunia. Hampir 20 persen pasokan minyak global melewati perairan sempit yang menghubungkan Teluk Arab dengan Laut Arab tersebut setiap hari.

Setelah menempuh perjalanan selama 16 jam dengan tingkat kewaspadaan tinggi, Gamsunoro akhirnya berhasil melewati titik kritis Selat Hormuz dan memasuki zona pelayaran yang dinilai lebih aman pada Rabu malam.

“Ini bukan hanya keberhasilan teknis, tetapi juga hasil dari disiplin prosedur, koordinasi lintas institusi, dan kesiapan kru di lapangan,” kata Vega.

Di lingkungan internal perusahaan, keberhasilan tersebut dipandang sebagai indikator bahwa sistem manajemen risiko pelayaran nasional mampu beradaptasi terhadap situasi global yang tidak menentu.

Meski demikian, perhatian terhadap kondisi kawasan belum sepenuhnya berakhir. Saat ini, satu armada lainnya yakni VLCC Pertamina Pride masih berada di kawasan Teluk Arab dan menunggu hasil evaluasi keamanan sebelum melanjutkan pelayaran.

Seorang analis maritim menilai peristiwa tersebut menunjukkan bahwa industri energi dan logistik global kini semakin dipengaruhi faktor geopolitik selain pertimbangan ekonomi semata.

“Ke depan, pelayaran di kawasan seperti ini akan semakin bergantung pada kecerdasan analitik, kecepatan respons, dan koordinasi diplomatik. Risiko tidak lagi hanya berada di laut, tetapi juga di meja negosiasi,” ujarnya.

Keberhasilan pelayaran Gamsunoro menjadi gambaran nyata kerja di balik rantai pasok energi dunia yang melibatkan teknologi, strategi, koordinasi lintas lembaga, serta kemampuan mengambil keputusan di tengah ketidakpastian global.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Tutup