Nelayan Tangerang Gaungkan “Buruh Laut” di May Day 2026, Tuntut BBM Subsidi hingga Stop Kriminalisasi
KAB TANGERANG, WARTAXPRESS.com — Peringatan Hari Buruh Internasional (May Day) 1 Mei 2026 tak hanya menjadi momentum bagi pekerja sektor industri. Himpunan Masyarakat Nelayan Indonesia (HMNI) Kabupaten Tangerang menegaskan bahwa nelayan kecil juga bagian dari buruh yang selama ini belum mendapat perhatian setara.
Dalam pernyataan sikapnya, aktivis nelayan yang akrab disapa Bunda Ike menyebut nelayan sebagai “buruh laut” yang menghadapi berbagai persoalan mulai dari mahalnya bahan bakar hingga harga ikan yang tidak stabil.
“Keringat nelayan asinnya sama dengan keringat buruh. Bedanya kami kerja di atas air. Negara jangan anak tirikan kami,” ujar Ike dalam keterangannya, Jumat 1 Mei 2026
Tuntutan Nelayan Tangerang
HMNI Kabupaten Tangerang menyampaikan lima tuntutan utama dalam momentum May Day tahun ini:
Pertama, distribusi BBM subsidi harus tepat sasaran. Mereka menyoroti kebocoran solar subsidi yang justru dinikmati kapal besar di atas 30 GT, sementara nelayan kecil kesulitan mendapatkan bahan bakar untuk melaut.
Kedua, perlindungan upah bagi anak buah kapal (ABK). Ike menyebut masih banyak ABK, khususnya di kapal cantrang, yang menerima upah di bawah standar upah minimum kabupaten (UMK) tanpa kontrak kerja maupun jaminan sosial.
Ketiga, penghentian kriminalisasi nelayan kecil. Nelayan di wilayah pesisir seperti Teluknaga, Kronjo, dan Mauk disebut kerap berhadapan dengan aparat karena persoalan zona tangkap yang tidak jelas.
Keempat, tata niaga ikan yang lebih adil. HMNI menilai tempat pelelangan ikan (TPI) masih dikuasai tengkulak sehingga harga hasil tangkapan tidak berpihak kepada nelayan.
Kelima, perlindungan kawasan pesisir. Aktivitas reklamasi dan limbah industri disebut telah merusak ekosistem laut dan tambak di sejumlah wilayah seperti Dadap, Tanjung Pasir, dan Ketapang.
Soroti Ketimpangan Bantuan
Ike juga menyoroti distribusi bantuan pemerintah yang dinilai tidak merata. Menurutnya, selama ini bantuan lebih banyak mengalir ke kelompok nelayan yang sudah mapan, bukan kepada buruh nelayan atau ABK yang justru paling rentan.
“Miris kalau dilihat secara historis, bantuan sering datang ke kelompok tertentu. Nelayan kecil dan harian seperti dianaktirikan,” katanya.
Selain itu, keterbatasan fasilitas penunjang juga menjadi masalah serius. Program Kampung Nelayan Modern (KNMP) dinilai memiliki potensi besar, namun implementasinya masih menghadapi berbagai kendala di lapangan.
Nelayan Ikut Suarakan May Day
Sejumlah perwakilan nelayan, termasuk kelompok perempuan atau “Srikandi”, turut ambil bagian dalam aksi peringatan May Day di kawasan Monas, Jakarta. Kehadiran mereka menjadi simbol bahwa perjuangan buruh juga mencakup sektor kelautan.
Sebelumnya, HMNI juga telah berdialog dengan Kementerian Ketenagakerjaan terkait isu buruh nelayan. Namun, Ike menegaskan bahwa langkah konkret dari pemerintah masih sangat dinantikan, terutama bagi nelayan kecil di Kabupaten Tangerang.
“May Day adalah hari perlawanan kami juga. Hidup buruh, hidup nelayan,” tegasnya.


Tinggalkan Balasan