DPR Dorong BSD City Jadi Percontohan Nasional Kawasan Industri Ramah Lingkungan dan UMKM
JAKARTA, WARTAXPRESS.com Anggota Komisi VII DPR RI Hendry Munief mendorong kawasan Bumi Serpong Damai (BSD) City, Tangerang Selatan, Banten, menjadi percontohan nasional dalam pengembangan kawasan industri modern, tertata, dan ramah lingkungan.
Kawasan ini dinilai mampu mengintegrasikan pertumbuhan industri dengan pemberdayaan tenaga kerja lokal serta Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM).
Hal tersebut disampaikan Hendry dalam kunjungan kerja spesifik Komisi VII DPR RI ke BSD City, Kamis (15/1/2026).
Menurutnya, konsep pengembangan kawasan industri yang diterapkan di BSD City patut dijadikan referensi dalam penyusunan Rancangan Undang-Undang (RUU) Kawasan Industri oleh Kementerian Perindustrian.
“UMKM menjadi kata kunci bagi pertumbuhan ekonomi kita, dan tenaga kerja lokal itu menjadi yang pertama harus mendapatkan perhatian. Industri yang kita lihat hari ini, BSD City merupakan kawasan industri yang luar biasa dan komprehensif.Ini menjadi contoh yang sangat baik dan saya harap Kementerian Perindustrian dapat menjadikannya referensi dalam penyusunan RUU Kawasan Industri,” jelas Hendry.
Politisi Fraksi PKS itu menegaskan, penyerapan tenaga kerja lokal harus menjadi prioritas utama dalam pengembangan kawasan industri. Selain itu, penguatan pendidikan vokasi dinilai krusial agar sejalan dengan kebutuhan dunia usaha dan industri.
“Tenaga kerja lokal harus mendapat perhatian utama, dan pendidikan vokasi harus benar-benar disesuaikan dengan kebutuhan dunia industri,” ujar Hendry.
Sebagai contoh, Hendry menyinggung praktik di Kawasan Industri MM2100, Cikarang, Bekasi, di mana puluhan perusahaan industri berkolaborasi menentukan jurusan pendidikan vokasi sesuai kebutuhan mereka.
Model tersebut dinilai efektif dalam menciptakan tenaga kerja siap pakai sekaligus mendorong keterlibatan UMKM lokal dalam rantai ekonomi kawasan.
“Kolaborasi industri dan pendidikan seperti ini membuat lulusan lebih siap kerja dan memberi ruang bagi UMKM untuk tumbuh,” jelasnya.
Ia menambahkan, untuk mewujudkan link and match yang efektif antara pendidikan vokasi dan industri, diperlukan sistem yang mampu menghubungkan langsung lulusan SMK dengan perusahaan yang membutuhkan tenaga kerja terampil.
“Jadi kita ingin agar link and match ataupun match and link, kalau bahasa tadi match dulu baru kita link kan, ini betul-betul bisa terjadi dengan baik,” ujarnya.
Menurut Hendry, salah satu persoalan utama tenaga kerja lokal adalah minimnya keterhubungan antara pendidikan vokasi dan kebutuhan pasar kerja.
Ia menilai, ketika keterhubungan tersebut terbangun dengan baik, industri bahkan siap menjamin penyerapan lulusan secara penuh.
“Dengan cara ini, diharapkan tidak ada lagi pengangguran di kalangan lulusan SMK yang dihasilkan oleh kawasan industri,” tambahnya.
Senada dengan itu, Ketua Komisi VII DPR RI Saleh Partaonan Daulay menekankan pentingnya kontribusi nyata kawasan industri terhadap penguatan UMKM di sekitarnya.
Ia menilai pengembangan kawasan industri tidak dapat dipisahkan dari upaya pemberdayaan pelaku usaha kecil dan menengah.
Saleh menyebutkan, kontribusi tersebut dapat diwujudkan melalui pembinaan usaha, pelatihan peningkatan kapasitas, hingga pemanfaatan program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) yang menjadi kewajiban pelaku industri.
Keterlibatan industri dalam pendidikan vokasional juga dinilai penting untuk menciptakan ekosistem usaha yang berkelanjutan.
“UMKM di sini jumlahnya banyak, sehingga kami berharap perusahaan hadir melalui pembinaan, pelatihan, CSR, hingga dukungan pendidikan vokasi,” ujarnya.
Lebih jauh, Saleh mendorong agar kolaborasi industri dan masyarakat tidak hanya terbatas pada aspek ekonomi, tetapi juga mencakup dimensi sosial dan lingkungan.
Menurutnya, keterlibatan dalam kegiatan kemasyarakatan dan pelestarian lingkungan merupakan bagian dari tanggung jawab kawasan industri.
“Pendekatan ini penting agar manfaat pembangunan kawasan industri dapat dirasakan secara lebih luas oleh masyarakat sekitar,” kata Saleh.
Sementara itu, Kepala Divisi CSR Sinar Mas Land, Adhityo Galih Priyambodo, menegaskan komitmen perusahaan dalam mendukung pengembangan pendidikan, baik formal maupun informal, melalui berbagai program CSR.
“Beberapa program CSR yang berkontribusi terhadap pendidikan di antaranya program Bina Sekolah (Sekolah Berhati), Pengembangan Budaya Literasi, Bantuan Pendidikan, Bantuan Sekolah, dan Green Camp,” imbuhnya.

Tinggalkan Balasan