Gawat, Ekonom Prediksi Rupiah Bisa Sentuh Rp25 Ribu per Dolar AS Akhir 2026

F-H F-H
Nilai tukar rupiah melemah dari dolar AS

WARTAXPRESS.com- Nilai tukar rupiah diperkirakan masih menghadapi tekanan hingga akhir tahun 2026. Ekonom Ferry Latuhihin bahkan memprediksi rupiah berpotensi melemah hingga mencapai Rp25 ribu per dolar Amerika Serikat (AS) apabila tidak ada langkah mitigasi yang dinilai mampu mengembalikan kepercayaan pasar.

Ferry menilai pelemahan rupiah saat ini tidak hanya dipengaruhi faktor global seperti konflik geopolitik maupun kebijakan suku bunga AS.

Menurutnya, sejumlah persoalan domestik justru menjadi penyebab utama melemahnya mata uang Indonesia.

“Kalau dikatakan bahwa ini semuanya gara-gara external forces itu bisa dilihat angkanya. Terhadap ringgit Malaysia kita melemah, terhadap dolar Singapura kita melemah juga. Pada saat mata uang lain menguat terhadap dolar AS, kita tetap melemah,” ujar Ferry dikutip dari CNN Indonesia, Jumat, 5 Juni 2026.

Ia menilai pelemahan rupiah yang terjadi saat ini bersifat struktural dan mencerminkan masalah kepercayaan pasar terhadap kondisi ekonomi nasional.

Ferry memperkirakan nilai tukar rupiah dapat mencapai Rp20 ribu per dolar AS pada Juni 2026, kemudian melemah menjadi Rp22 ribu pada Juli sebelum berpotensi menyentuh Rp25 ribu per dolar AS pada akhir tahun.

“Saya masih cukup yakin Rp20 ribu di Juni, Rp22 ribu di Juli, dan kemudian dari Juli sampai Desember bisa ke Rp25 ribu. Kenapa? Karena tidak ada mitigasi risiko secara moneter maupun fiskal,” katanya.

Menurut Ferry, berbagai perkembangan yang terjadi belakangan turut memengaruhi sentimen investor, termasuk perubahan outlook Indonesia oleh lembaga pemeringkat internasional serta sejumlah kebijakan yang dianggap menciptakan ketidakpastian.

Ia menilai persoalan terbesar yang dihadapi saat ini adalah menurunnya tingkat kepercayaan investor terhadap pasar Indonesia.

“The problem is trust investor. Ketika Anda mengubah kebijakan dengan tujuan yang baik, belum tentu investor percaya,” ujarnya.

Selain itu, Ferry berpendapat kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia tidak akan cukup untuk membalikkan sentimen negatif yang berkembang di pasar keuangan.

Ia juga menyoroti potensi kenaikan harga minyak dunia akibat konflik di Timur Tengah yang dinilai dapat menambah tekanan terhadap rupiah sekaligus memperberat beban fiskal pemerintah.

“Harga minyak ini saya yakin tidak akan turun lagi ke US$60 per barel. Tendensinya sekarang semakin tinggi, bisa di kisaran US$110 sampai US$120 per barel,” ucapnya.

Sementara itu, pemerintah menilai kondisi ekonomi Indonesia masih berada pada jalur yang kuat meskipun rupiah mengalami pelemahan.

Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengatakan, fundamental ekonomi nasional masih terjaga, tercermin dari pertumbuhan ekonomi dan tingkat inflasi yang relatif stabil.

“Kita harus yakin bahwa sesungguhnya fundamental ekonomi kita yang tergambar dari pertumbuhan ekonomi. Kemudian, inflasi yang masih terjaga Insyaallah sesungguhnya kita memiliki fundamental ekonomi yang cukup kuat,” kata Prasetyo di Istana Kepresidenan Jakarta, Kamis, 4 Juni 2026.

Ia menambahkan pemerintah bersama Bank Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan terus melakukan koordinasi untuk memantau perkembangan ekonomi sekaligus menyiapkan langkah-langkah yang diperlukan dalam menjaga stabilitas perekonomian nasional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Tutup