Kacau! IHSG Ambruk 4,31 Persen, Pasar Saham Indonesia Kembali ke Level 4.900

F-H F-H
IHSG Indonesia hari ini, Senin 19 Oktober 2026.

WARTAXPRESS.com- Pasar saham Indonesia kembali diguncang aksi jual pada perdagangan Senin, 19 Oktober 2026.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) langsung anjlok 4,31% pada pembukaan hingga berada di level 4.961,87, turun sekitar 223 poin dari penutupan perdagangan sebelumnya.

Level tersebut menjadi yang terendah sejak Oktober 2020. IHSG juga kembali berada di kisaran 4.900, level yang terakhir terlihat ketika pandemi Covid-19 mengguncang pasar keuangan.

Sejumlah saham berkapitalisasi besar masih menjadi pemberat pergerakan indeks. BBCA, BBRI, BYAN, TLKM dan BBRI tercatat menjadi laggard pada perdagangan hari ini.

Tekanan pasar terjadi setelah IHSG pada Jumat 16 Oktober 2026, anjlok 11,6%. Dengan tambahan penurunan pada perdagangan Senin, IHSG telah terkoreksi 43% sepanjang tahun berjalan atau year to date (ytd).

Kejatuhan tersebut berkaitan dengan pengumuman MSCI yang menyatakan tengah mempertimbangkan pemindahan Indonesia dari kategori emerging markets menjadi pasar berstatus standalone.

Jika terealisasi, perubahan status tersebut berisiko memutus akses Indonesia terhadap aliran modal internasional.

Dilansir dari CNBC, Indonesia juga akan dikelompokkan bersama pasar standalone lainnya seperti Lebanon dan Zimbabwe.

MSCI sebelumnya sempat mengancam menurunkan status Indonesia menjadi frontier market pada Januari lalu.

Ancaman tersebut muncul karena persoalan transparansi kepemilikan saham dan perilaku perdagangan.

Namun, dalam pernyataan terbarunya, MSCI menilai kurangnya kemajuan dalam membenahi persoalan tersebut membuat penurunan ke status frontier tidak lagi mencerminkan seriusnya masalah yang ada.

“Beban pembuktian kini telah bergeser. Untuk menghindari reklasifikasi, dibutuhkan bukti nyata bahwa reformasi yang diumumkan telah dijalankan secara konsisten dan memperbaiki fungsi pasar secara material,” tulis ahli strategi Goldman Sachs dalam risetnya, seperti dikutip dari Reuters.

Di tengah gejolak pasar, Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Senin, 19 Oktober 2026, memangkas batas auto rejection bawah (ARB) menjadi 7% dari sebelumnya 15%.

BEI menyebut kebijakan tersebut dilakukan agar investor memiliki kesempatan mengevaluasi dan mencerna informasi yang tersedia sebelum mengambil keputusan investasi berdasarkan fundamental ekonomi Indonesia.

Keputusan itu diambil setelah regulator jasa keuangan menggelar pertemuan dengan pelaku pasar modal, termasuk analis dan ekonom, pada akhir pekan.

Pada Jumat sebelumnya, regulator juga mengumumkan sanksi terhadap pihak-pihak yang diduga terlibat dalam manipulasi perdagangan saham tiga perusahaan.

Goldman Sachs memperkirakan pengeluaran Indonesia dari indeks MSCI dapat memicu arus keluar dana pasif hingga US$5,6 miliar atau sekitar Rp100,8 triliun.

Sementara itu, investor aktif yang menggunakan indeks tersebut sebagai acuan tercatat memiliki aset lebih dari US$8 miliar atau sekitar Rp144 triliun.

Namun, aksi jual dari kelompok ini bersifat diskresioner dan tidak otomatis mengikuti perubahan indeks.

Sepanjang 2026, investor asing telah mencatatkan jual bersih saham Indonesia sebesar US$4,88 miliar atau sekitar Rp87,84 triliun.

Nilai tersebut berpotensi menjadi arus keluar tahunan terbesar dalam setidaknya 16 tahun terakhir.

Kepala Strategi Makro dan Investasi Asia BNY Investments, Aninda Mitra, menilai eksposur asing di saham Indonesia telah menyusut cukup dalam sehingga ruang penurunan berikutnya kemungkinan tidak terlalu besar.

Meski demikian, ia mengingatkan penarikan modal dalam jumlah besar akan semakin sulit dilakukan dalam kondisi pasar saat ini, meskipun masih terdapat sejumlah perusahaan dan bank dengan fundamental yang solid.

Tekanan dari MSCI turut menambah kekhawatiran investor terhadap kondisi pasar keuangan Indonesia.

Sebelumnya, Moody’s dan Fitch telah menurunkan prospek peringkat utang Indonesia menjadi negatif pada awal tahun ini.

Kekhawatiran investor juga merambat ke pasar di luar saham. Rupiah melemah ke level Rp18.000 per dolar AS, mendekati rekor terlemahnya di Rp18.190 per dolar AS yang tercatat pada Juni lalu.

Manajer portofolio Allspring Global Investments di Singapura, Gary Tan, mengatakan perhatian utama bukan hanya potensi aksi jual akibat perubahan indeks, tetapi juga dampaknya terhadap rupiah dan imbal hasil obligasi domestik.

“Dislokasi pasar bisa berujung pada pengetatan kondisi keuangan dan dampak yang lebih berarti terhadap perekonomian riil,” ujarnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Tutup